Tampilkan postingan dengan label Bahan Ajar PAI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bahan Ajar PAI. Tampilkan semua postingan

Rabu, 06 Agustus 2025

Posted by Rumah Ratu On Rabu, Agustus 06, 2025


Etos Kerja dalam Islam

Dalam Islam, konsep etos kerja sangat ditekankan. Bekerja bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup di dunia, tetapi juga sebagai bentuk ibadah dan pengabdian kepada Allah SWT. Dengan kata lain, bekerja adalah sarana untuk meraih ridha Allah.

وَقُلِ ٱعْمَلُوا۟ فَسَيَرَى ٱللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُۥ وَٱلْمُؤْمِنُونَ ۖ وَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ عَٰلِمِ ٱلْغَيْبِ وَٱلشَّهَٰدَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

Artinya: Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.

Dalam ayat ini Allah mengatakan kepada mereka yang bertobat, bekerjalah kamu, dengan berbagai pekerjaan yang mendatangkan manfaat, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, yakni memberi penghargaan atas pekerjaanmu,

Banyak pesan-pesan mulia yang terkandung dalam surah diatas berikut diantaranya :

1.     Allah memerintahkan untuk beramal saleh hingga manfaatnya bisa dirasakan oleh diri sendiri maupun masyarakat luas. Amal tersebut harus dilakukan dengan ikhlas karena mengharap rida dari Allah.

2.     Setiap amal akan dilihat oleh Allah dan orang mukmin di akhirat kelak. Lalu akan dibalas sesuai amal tersebut, jika amalnya baik maka mendapat pahala, sebaliknya jika amalnya buruk maka akan dibalas dengan siksa. Karenanya seorang muslim haruslah memperbanyak amal saleh ketika hidup di dunia.

3.     Janganlah merasa amalnya sudah cukup banyak untuk bekal hidup di akhirat. Sifat ini akan menghambat munculnya keinginan untuk beramal saleh lagi. Tumbuhkan inisatif untuk melakukan amal saleh sehingga orang lain ikut tergerak untuk melakukannya. Pahala berlipat akan diberikan oleh Allah. kepada orang yang memberi contoh tanpa mengurangi pahala mereka yang mencontoh.

4.     Setiap manusia akan kembali ke kampung akhirat, dan menerima balasan amal perbuatannya. Seorang mukmin hendaklah jangan larut dengan gemerlap kehidupan duniawi hingga melalaikan akhirat yang kekal abadi.

‘Kerja’ dalam bahasa Arab disebut dengan ’amala - ya’malu dan yang seakar dengan kata tersebut. Di dalam Al-Qur’an, kata-kata yang berarti ‘bekerja’ diulang sebanyak 412 kali dan seringkali dihubungkan dengan pekerjaan yang saleh atau amal saleh. Amal saleh yaitu pekerjaan yang membawa kebaikan, baik bagi pelakunya maupun orang lain. Kebaikan tersebut dapat berupa perbaikan ekonomi, kesejahteraan, kesehatan, pendidikan, sosial, spiritual dan sebagainya. Kebaikan tersebut meliputi kebaikan hidup di dunia dan akhirat. Penyebutan kata ‘bekerja’ yang sedemikian banyak di dalam Al Qur’an menunjukkan bahwa masalah ‘kerja’ sangatlah penting bagi kehidupan manusia. Oleh karena itu, Islam sangat menganjurkan umatnya untuk bekerja keras atau memiliki etos kerja tinggi. Rasulullah Saw. bersabda dalam sebuah hadis berikut:

عن الزبير بن العَوَّام رضي الله عنه مرفوعاً: «لأَن يأخذ أحدكم أُحبُلَهُ ثم يأتي الجبل، فيأتي بِحُزْمَة من حطب على ظهره فيبيعها، فَيَكُفَّ الله بها وجهه، خيرٌ له من أن يسأل الناس، أعْطَوه أو مَنَعُوه»[صحيح] - [رواه البخاري].  

Artinya: “Dari Abu Abdullah az-Zubair bin al-‘Awwam r.a., berkata, Rasulullah Saw. bersabda: “Sungguh sekiranya salah seorang di antara kamu sekalian mengambil beberapa utas tali kemudian pergi ke gunung dan kembali dengan memikul seikat kayu bakar dan menjualnya di mana dengan hasil itu Allah mencukupkan kebutuhan hidupnya, maka itu lebih baik baginya daripada ia meminta-minta kepada sesama manusia baik mereka memberi ataupun tidak memberinya”. (H.R. Bukhari)

Hadis di atas secara tegas menyatakan bahwa bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari lebih dicintai Allah dan rasul-Nya dibanding berpangku tangan menunggu bantuan orang lain. Allah Swt. telah memberikan wewenang kepada manusia untuk mengolah sumber daya alam di bumi.

Mari kita perhatikan Q.S. al-Jumu’ah/62:10 berikut ini.

Artinya: “Apabila salat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi; carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung”. (Q.S. al-Jumu’ah/62:10) Apabila manusia mau bekerja keras, maka akan dapat memenuhi kebutuhan pokoknya, terutama sandang, pangan dan tempat tinggal. Islam sangat menghargai seseorang yang bekerja keras untuk memperoleh penghidupan yang layak, dan mengkonsumsi makanan dari hasil usahanya sendiri. Hal ini sesuai dengan hadis berikut ini.

فَإِذَا قُضِيَتِ ٱلصَّلَوٰةُ فَٱنتَشِرُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ وَٱبْتَغُوا۟ مِن فَضْلِ ٱللَّهِ وَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

 Artinya: “Dari al-Miqdam bin Ma’dikariba r.a. dari Nabi Saw., beliau bersabda: “Tidak ada seseorang makan makanan yang lebih baik daripada makan hasil usahanya sendiri, dan sesungguhnya Nabi Allah Daud a.s. makan dari hasil usahanya sendiri”. (H.R. Bukhari)

Beberapa prinsip utama etos kerja dalam Islam antara lain:

1.     Ikhlas karena Allah SWT. Niat menjadi landasan utama. Bekerja dengan niat tulus karena Allah akan mengubah pekerjaan duniawi menjadi amal ibadah yang berpahala. Ini membuat pekerjaan yang berat menjadi ringan dan penuh berkah.

2.     Kerja Keras dan Sungguh-sungguh. Islam sangat mengutuk kemalasan. Seorang Muslim didorong untuk bekerja keras (mujahid), bersungguh-sungguh, dan pantang menyerah. Allah tidak menyukai hamba-Nya yang malas dan bergantung pada orang lain.

3.     Jujur dan Amanah. Kejujuran (shiddiq) adalah pondasi utama. Seorang Muslim harus jujur dalam setiap transaksi dan perkataan. Amanah berarti dapat dipercaya dan bertanggung jawab penuh terhadap tugas yang diberikan. Sifat-sifat ini menumbuhkan kepercayaan dari orang lain.

4.     Menghargai Waktu. Waktu adalah aset berharga yang tidak dapat kembali. Islam mengajarkan pentingnya memanfaatkan waktu dengan produktif dan efisien, bukan menyia-nyiakannya.

5.     Profesional dan Unggul. Bekerja tidak hanya sekadar selesai, tetapi harus dilakukan dengan kualitas terbaik. Prinsip "ihsan" (melakukan sesuatu dengan sebaik-baiknya) berlaku dalam segala hal, termasuk pekerjaan. Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang beriman akan melihat hasil pekerjaan kita.

Dengan mengamalkan etos kerja yang Islami, seorang Muslim tidak hanya meraih kesuksesan di dunia, tetapi juga keberkahan dan pahala di akhirat.

Menerapkan Perilaku Etos Kerja untuk Meraih Kesuksesan

Praktik kerja keras sudah dicontohkan oleh Rasulullah Saw. sejak beliau masih kanak-kanak. Tercatat dalam sejarah bahwa pada usia 12 tahun sudah berniaga hingga ke negeri Syam bersama Abu Thalib. Demikian pula sahabat Abu Bakar, Umar bin Khattab, Usman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib merupakan figur teladan dalam bekerja keras.

Pada suatu hari Rasulullah Saw. masuk ke masjid dan melihat Abu Umamah, salah satu sahabat Anshar sedang duduk termenung seperti sedang merasa susah. Nabi Saw. bertanya: “mengapa engkau duduk sendirian di masjid, padahal ini bukan saatnya mengerjakan salat?”. Abu Umamah menjawab: “Saya ini sedang banyak hutang, pailit, dan tidak punya semangat untuk bekerja. Saya selalu diliputi perasaan cemas dan ragu”. Mendengar jawaban tersebut, Rasululullah Saw. memberi nasihat kepada Abu Umamah, “jauhilah perasaan ragu dan putus asa, malas dan lemah kemampuan, pengecut dan kikir, gemar berhutang, dan hubungan kurang baik dengan sesama manusia”. Abu Umamah bersungguh-sungguh melaksanakan semua nasihat tersebut. Akhirnya kehidupan Abu Umamah menjadi lebih baik dan bahagia. Kisah di atas merupakan kisah seorang sahabat yang memiliki etos kerja tinggi. Tentunya sifat mulia ini perlu kita terapkan dalam kehidupan sehari hari.

"Bagi seorang muslim, etos kerja bukan hanya bertujuan memenuhi kebutuhan hidup duniawi, tetapi tujuan mulia yakin beribadah kepada Allah Swt." Secara rinci, tujuan bekerja dalam Islam adalah sebagai berikut:

1.     Meraih rida Allah Swt. Bekerja dalam Islam bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan jasmani, tetapi untuk menghambakan diri kepada Allah Swt. dan meraih rida dari Nya. Semua aktivitas seorang muslim di dunia ini seyogyanya diarahkan untuk meraih rida Allah Swt.

2.     Menolak kemunkaran Kemunkaran dapat terjadi pada seseorang yang menganggur. Sebab ada bisikan hawa nafsu dan syahwat yang dapat menjerumuskannya kedalam kemungkaran. Seseorang yang mengisi waktunya untuk bekerja berarti telah berhasil menghalau sifat malas dan menghindari dampak negatif pengangguran.

3.     Kepentingan amal sosial Islam mengajarkan umatnya untuk beramal sosial atau bersedekah sesuai kemampuan yang dimiliki. Bagi seorang muslim yang bekerja, tenaga dan hasil pekerjaannya dapat digunakan untuk bersedekah. 4) Memberi nafkah keluarga Seorang suami sebagai kepala keluarga berkewajiban memberikan nafkah lahir dan batin. Untuk memberikan kehidupan yang layak kepada anak dan isterinya, maka seorang suami harus rajin bekerja keras.

Etos kerja seorang muslim harus meningkat dari waktu ke waktu. Berikut ini merupakan cara meningkatkan etos kerja, yaitu:

a.     Membuat skala prioritas dari semua pekerjaan yang mendesak untuk segera diselesaikan. Memilih dan menentukan sebuah pekerjaan yang akan diselesaikan dalam waktu dekat akan meringankan beban pikiran. Sebab, pikiran yang terlalu berat akan menghambat terselesaikannya sebuah pekerjaan.  

b.     Meningkatkan semangat, pengetahuan, dan keterampilan yang menunjang pekerjaan. Pengetahuan yang luas dan mendalam tentang hal-hal yang terkait dengan pekerjaan akan sangat menunjang bagi peningkatan etos kerja. Lebih dari itu keterampilan (skill) dan semangat tinggi akan semakin meningkatkan kualitas dan kuantitas hasil pekerjaan.

c.      Saling memberi motivasi kepada rekan kerja agar terjaga komitmen untuk maju dan sukses bersama-sama. Banyak faktor yang mempengaruhi turunnya motivasi untuk meraih sukses. Di antaranya adalah munculnya rasa malas yang tidak diketahui dari mana asalnya. Hal ini dapat diatasi dengan saling memberi motivasi di antara teman. Dengan demikian semua teman akan memiliki semangat untuk maju dan sukses secara bersama sama dalam meraih cita-cita.

d.     Menciptakan suasana kerja yang nyaman dengan saling menjaga perasaan rekan kerja. Suasana nyaman akan tercipta jika masing-masing individu tidak mudah menyalahkan orang lain, sebaliknya lebih banyak mawas diri. Membiasakan diri untuk menyapa sambil melempar senyuman kepada teman akan membuat hati senang dan bahagia. Dengan demikian suasana belajar di dalam kelas akan terasa menyenangkan.

e.     Melibatkan teknologi canggih dalam proses pekerjaan. Pada era revolusi industri 4.0 saat ini, teknologi berperan sangat penting untuk menunjang keberhasilan sebuah pekerjaan, terutama teknologi informasi dan komunikasi.

Manfaat Etos Kerja

Banyak manfaat yang diperoleh dari perilaku kerja keras (etos kerja). Manfaat tersebut dapat dirasakan oleh dirinya sendiri maupun orang lain. Di antara manfaat etos kerja adalah sebagai berikut:

a.     Terbiasa menghargai hasil yang sudah diraih Pekerjaan yang telah menghasilkan sebuah produk, bagaimanapun bentuk dan kualitasnya harus tetap dihargai. Karena menghargai karya orang lain akan mampu memotivasi agar bisa menghasilkan karya lebih baik lagi.

b.     Menjaga martabat diri sendiri Martabat diri akan terjaga jika seseorang bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan. Pasti banyak orang meremehkan apabila hanya bermalas malasan dan berpangku tangan. Bahkan ia dianggap sebagai orang yag tidak berguna bagi keluarganya.

c.      Wujud pengabdian kepada Allah Swt. Kerja keras yang dilakukan oleh seseorang dengan niat ikhlas karena Allah Swt., dan untuk memenuhi kebutuhan hidup merupakan wujud ibadah kepada-Nya.

d.     Melatih sifat tabah, sabar, dan tawakal Setiap pekerjaan yang dilakukan dengan sungguh-sungguh pasti akan menghadapi hambatan. Dengan senantiasa bekerja keras, maka akan muncul sifat tabah, sabar, optimis, serta tawakal. Pada hakikatnya, kesuksesan merupakan karunia Allah Swt. Kegagalan adalah sukses yang tertunda, karena Allah Swt. selalu menghendaki kebaikan pada hamba-Nya yang bertakwa.


Minggu, 01 September 2024

Posted by Rumah Ratu On Minggu, September 01, 2024

 

Kriteria memilih pasangan untuk menikah dalam Islam sangatlah penting, Bahkan dianjurkan untuk serius dalam permasalahan ini dan dilarang menjadikan hal ini sebagai bahan candaan atau main-main.

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

ثلاث جدهن جد وهزلهن جد: النكاح والطلاق والرجعة

“Tiga hal yang seriusnya dianggap benar-benar serius dan bercandanya dianggap serius: nikah, cerai dan ruju.'” (Diriwayatkan oleh Al Arba’ah kecuali An Nasa’i. Dihasankan oleh Al Albani dalam Ash Shahihah)

karena pernikahan adalah ibadah yang bertujuan untuk membentuk keluarga sakinah, mawaddah, warahmah. Rasulullah SAW telah memberikan tuntunan yang jelas mengenai hal ini dalam sebuah hadist Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تُنْكَحُ المَرْأَةُ لأرْبَعٍ: لِمالِها ولِحَسَبِها وجَمالِها ولِدِينِها، فاظْفَرْ بذاتِ الدِّينِ، تَرِبَتْ يَداكَ

“Wanita biasanya dinikahi karena empat hal: karena hartanya, karena kedudukannya, karena parasnya dan karena agamanya. Maka hendaklah kamu pilih wanita yang bagus agamanya (keislamannya). Kalau tidak demikian, niscaya kamu akan merugi.” (HR. Bukhari no.5090, Muslim no.1466).

Kriteria Utama Memilih Pasangan:

1.     Agama:

Ini adalah kriteria yang paling utama dari kriteria yang lain. Maka dalam memilih calon pasangan hidup, minimal harus terdapat satu syarat ini Dari Abu Hatim Al Muzanni radhiallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

إذا جاءَكم مَن ترضَونَ دينَه وخُلقَه فأنكِحوهُ ، إلَّا تفعلوا تَكن فتنةٌ في الأرضِ وفسادٌ

“Jika datang kepada kalian seorang lelaki yang kalian ridhai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia. Jika tidak, maka akan terjadi fitnah dan kerusakan di muka bumi” (HR. Tirmidzi no.1085)

Pengetahuan agama adalah poin penting yang menjadi perhatian dalam memilih pasangan idaman. Karena bagaimana mungkin seseorang dapat menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, jika ia tidak tahu apa saja yang diperintahkan oleh Allah dan apa saja yang dilarang.

Maka pilihlah calon pasangan hidup yang memiliki pemahaman yang baik tentang agama. Karena salah satu tanda orang yang diberi kebaikan oleh Allah adalah memiliki pemahaman agama yang baik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين

“Orang yang dikehendaki oleh Allah untuk mendapat kebaikan akan dipahamkan terhadap ilmu agama.” (HR. Bukhari-Muslim)

2.     Nasab (Keturunan):

Islam menganjurkan kepada seseorang yang hendak meminang seorang wanita untuk mencari tahu tentang nasabnya. Hal ini dikarenakan keluarga memiliki peran besar dalam mempengaruhi ilmu, akhlak dan keimanan seseorang. Seorang wanita yang tumbuh dalam keluarga yang baik lagi Islami biasanya menjadi seorang wanita yang shalihah.

3.     Rupa:

Meskipun rupa bukan faktor utama, namun Islam tidak melarang untuk memilih pasangan yang menarik secara fisik. Karena paras yang cantik atau tampan, juga keadaan fisik yang menarik lainnya dari calon pasangan hidup kita adalah salah satu faktor penunjang keharmonisan rumah tangga. Maka mempertimbangkan hal tersebut sejalan dengan tujuan dari pernikahan, yaitu untuk menciptakan ketentraman dalam hati.

Allah Ta’ala berfirman,

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجاً لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا

“Dan di antara tanda kekuasaan Allah ialah Ia menciptakan bagimu istri-istri dari jenismu sendiri agar kamu merasa tenteram denganya.” (QS. Ar Ruum: 21)

Abu Hurairah meriwayatkan hadis dari Rasulullah saw.:

قِيلَ يا رَسُولُ اللَّهِ أَيُّ النِّسَاءِ خَيْرٌ؟ قَالَ الَّذِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ

 وَلَا تُخَالِفُهُ فِيمَا يَكْرَهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهِ

Rasulullah saw. pernah ditanya; “Wanita yang bagaimana yang paling baik?” Beliau menjawab: “Jika dipandang (suami) ia menyenangkan, jika diperintah ia taat, dan ia tidak menyelisihi suaminya pada sesuatu yang tidak disukainya, baik dalam diri maupun harta” (HR. Ahmad)

Demikian beberapa kriteria yang perlu dipertimbangkan oleh seorang muslim yang hendak menapaki tangga pernikahan. Nasehat kami, selain melakukan usaha untuk memilih pasangan idaman, jangan lupa bahwa hasil akhir dari segala usaha ada di tangan Allah ‘Azza Wa Jalla. Maka sepatutnya jangan meninggalkan doa kepada Allah Ta’ala agar dipilihkan calon pasangan yang baik. Salah satu doa yang bisa dilakukan adalah dengan melakukan shalat Istikharah. Sebagaimana hadits dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,

إذا هم أحدكم بأمر فليصلِّ ركعتين ثم ليقل : ” اللهم إني أستخيرك بعلمك…”

“Jika kalian merasa gelisah terhadap suatu perkara, maka shalatlah dua raka’at kemudian berdoalah: ‘Ya Allah, aku beristikharah kepadamu dengan ilmu-Mu’… (dst)” (HR. Bukhari)

4.     Sepadan (Sekufu)

Yang dimaksud dengan sekufu adalah sebanding dalam hal kedudukan, agama, nasab, rumah dan selainnya Atau dengan kata lain kesetaraan dalam agama dan status sosial.

 

Selasa, 30 Juli 2024

Posted by Rumah Ratu On Selasa, Juli 30, 2024

Berkompetisi dalam kebaikan

Pada dasarnya berlomba atau berkompetisi adalah fitrah manusia yang sudah ada sejak awal penciptaan. Hal inilah yang mendorong manusia untuk berkembang dan mencapai kemajuan.

Islam memfasilitasi fitrah ini dengan mengarahkan semua perlombaan kepada kebaikan atau biasa disebut fastabiqul khairat, ini yang mendorong manusia bersegera untuk berlomba melakukan kebaikan sebagaimana firman Allah dalam Al-Quran Surah Al-Maidah Ayat 48

وَأَنزَلْنَآ إِلَيْكَ ٱلْكِتَٰبَ بِٱلْحَقِّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ ٱلْكِتَٰبِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ ۖ فَٱحْكُم بَيْنَهُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَآءَهُمْ عَمَّا جَآءَكَ مِنَ ٱلْحَقِّ ۚ لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا ۚ وَلَوْ شَآءَ ٱللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَٰحِدَةً وَلَٰكِن لِّيَبْلُوَكُمْ فِى مَآ ءَاتَىٰكُمْ ۖ فَٱسْتَبِقُوا۟ ٱلْخَيْرَٰتِ ۚ إِلَى ٱللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ

Artinya: Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu,

Dalam Tafsir Kementerian Agama dijelaskan bahwa Pada ayat-ayat yang lalu Allah menerangkan tentang diturunkannya taurat dan injil yang mengandung petunjuk dan cahaya, serta adanya kewajiban bagi umat masa itu untuk melaksanakan ajaran-ajarannya. Dan Allah kemudian menurunkan kitab Al-Qur'an kepada nabi Muhammad, sebagai nabi terakhir, dengan membawa kebenaran yang hakiki, yang membenarkan sebagian isi dari kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya, yaitu taurat, zabur, dan injil, dan menjaganya dari penyimpangan atau pengubahan yang dilakukan oleh orang-orang yang mencari keuntungan diri, maka putuskanlah perkara yang mereka perselisihkan menurut ketetapan dalam kitab-kitab yang diturunkan Allah itu dan janganlah sekali-kali engkau mengikuti kemauan dan keinginan nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Ketahuilah bahwasanya untuk setiap umat di antara kamu, di mana saja mereka berada, kami berikan aturan bagi mereka masing-masing dan jalan yang terang sesuai dengan keadaannya. Kalau Allah menghendaki sesuai dengan kehendak-Nya, niscaya kamu semua akan dijadikan-Nya sebagai satu umat saja, tetapi Allah berkehendak lain, yaitu ingin menguji kamu terhadap karunia dan semua nikmat yang telah diberikan-Nya kepadamu, maka sebagai jawaban dari semua rahmat yang telah dilimpahkan itu, berlomba-lombalah untuk berbuat kebajikan. Ketahuilah bahwa hanya kepada Allah saja kamu semua akan kembali.

Perintah untuk berlomba dalam kebaikan (fastabiqul khairat) juga terdapat

dalam beberapa ayat Al-Qur’an, di antaranya terdapat dalam Q.S. al-Baqarah 148

وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَا ۖ فَٱسْتَبِقُوا۟ ٱلْخَيْرَٰتِ ۚ أَيْنَ مَا تَكُونُوا۟ يَأْتِ بِكُمُ ٱللَّهُ جَمِيعًا ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ

Artinya: “Dan setiap umat mempunyai kiblat yang dia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan. Di mana saja kamu berada, pasti Allah akan mengumpulkan kamu semuanya. Sungguh, Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (Q.S. al-Baqarah/2: 148)

Ayat tersebut secara tegas memerintahkan untuk berlomba-lomba dalam kebaikan. Kebaikan yang dilakukan oleh seorang mukmin akan mendapatkan balasan dari Allah Swt. Berlomba dalam kebaikan merupakan suatu ajakan kepada orang lain dengan dimulai dari diri sendiri untuk selalu menempuh jalan yang diridai oleh Allah Swt. Mengapa seorang mukmin harus bersegera dalam berlomba-lomba dalam kebaikan?. Karena kesempatan waktu hidup di dunia hanya sementara dan terbatas oleh ruang dan waktu.

Tidak ada yang tahu kapan seseorang akan dipanggil menghadap Allah Swt. Di samping itu, tidak ada yang tahu perubahan yang akan dialami oleh seseorang. Bisa jadi malam ia beriman, esoknya sudah tidak memiliki iman. Atau malam ia masih salat berjamaah di masjid, pagi terjerumus dalam kemaksiatan. Oleh karena itu, Islam menganjurkan umatnya untuk bersegera dalam berbuat kebaikan. Hal ini sesuai dengan hadis berikut ini:

بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِى كَافِرًا أَوْ يُمْسِى مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا

Artinya: “Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah Saw. bersabda: “bersegeralah kamu sekalian untuk melakukan amal-amal shalih, karena akan terjadi suatu bencana yang menyerupai malam yang gelap gulita di mana ada seseorang yang pada waktu pagi ia beriman, tetapi pada waktu sore ia kafir, pada waktu sore ia beriman tetapi pada waktu pagi ia kafir, ia rela menukar agamanya (dengan sedikit keuntungan dunia)”. (H.R. Muslim 118)

Menerapkan Perilaku Kompetisi dalam Kebaikan untuk Meraih Kesuksesan

Cara mengamalkan pesan mulia yang terkandung dalam Q.S. al-Maidah/5: 48. Agar dapat berkompetisi dalam kebaikan adalah dengan menbiasakan  “M6” berikut ini, yaitu:

a.     Mengawali dengan basmalah

b.     Melakukan dengan penuh semangat

c.      Menjaga konsistensi

d.     Mempelajari ilmu yang terkait

e.     Membiasakan bekerja sama

f.       Mengamati, meniru, dan memodifikasi

 Untuk memahami “M6” di atas, perhatikan penjelasannya berikut ini.

1)     Mengawali suatu amal kebaikan dengan membaca basmalah dan berdoa kepada Allah Swt. agar diberikan kemudahan, kelancaran, dan keberkahan. Doa merupakan kekuatan spiritual yang akan mendorong kalian untuk berusaha maksimal hingga amal tersebut paripurna. Di samping itu ada nilai pahala atas amal yang dilakukan dengan ikhlas.

2)     Melakukan semua amal kebaikan dengan penuh optimis dan semangat. Sikap optimis dan semangat ini akan membuat seseorang menjadi yakin mampu mengerjakan amal kebaikan dengan tuntas. Lebih dari itu, tumbuh rasa senang dan bahagia karena telah berhasil menyelesaikan sebuah amal kebaikan. 

3)     Menjaga konsistensi (istiqamah) amal kebaikan yang sudah kalian lakukan. Kualitas dari amal kebaikan akan semakin meningkat apabila kalian lakukan dengan konsisten. Tiap hari akan ada pengalaman baru untuk perbaikan kualitas amal pada hari berikutnya dan masa datang.

4)     Mempelajari ilmu yang terkait dengan peningkatan kualitas amal kebaikan. Antara ilmu dan amal merupakan satu kesatuan. Ilmu tanpa amal, ibarat pohon tak berbuah. Demikian pula beramal tanpa ilmu akan mengakibatkan amal tersebut tertolak. Menambah bekal ilmu dapat kalian lakukan dengan belajar di lembaga pendidikan formal maupun non formal.

5)     Membiasakan diri beramal secara bersama-sama dengan melibatkan orang banyak. Dalam hal ini, bukan berarti mengabaikan amaliyah yang sifatnya pribadi. Keterlibatan banyak orang dalam suatu amal kebaikan akan membuat nilai amal tersebut semakin baik. Karena akan semakin banyak manfaat dan kemaslahatan yang dapat dirasakan oleh masyarakat luas. Lebih dari itu, akan memperkuat tali silaturahmi dan memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa.

6)     Mengamati, meniru, dan memodifikasi amal kebaikan yang telah dilakukan oleh orang lain. Hal ini akan memudahkan dan memotivasi seseorang dalam beramal saleh. Karena sudah dicontohkan oleh orang lain, maka harus ada usaha untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas amal tersebut agar lebih baik dan nilai manfaatnya menjadi lebih besar.

Banyak manfaat yang diperoleh dari perilaku kompetisi dalam kebaikan. Di antara manfaat tersebut adalah sebagai berikut:

1)     Memperoleh rida dan pahala dari Allah Swt.

Allah Swt. akan memberikan pahala kepada kalian jika melakukan pekerjaan dengan ikhlas. Kesuksesan tertinggi bukanlah sukses duniawi, tetapi kesuksesan tertinggi adalah rida dari Allah Swt.

2)     Menjadi manusia yang bermanfaat

Manusia terbaik adalah manusia yang mampu menebar manfaat dan kemaslahatan sebesar-besarnya kepada masyarakat. Nilai sebuah kebaikan akan berlipat ganda jika mampu memberikan manfaat yang besar untuk masyarakat luas.

3)     Mempercepat penyelesaian pekerjaan

Keinginan untuk menyelesaikan pekerjaan ini didasari oleh motivasi untuk menyelesaikan pekerjaan lainnya. Jika menunda suatu pekerjaan, maka pekerjaan yang lain ikut terbengkalai. Di samping itu, ada kompetitor yang memicu peningkatan kinerja.

4)     Termotivasi untuk menjadi lebih baik

Saat kalian berkompetisi dengan pihak lain, akan tumbuh keinginan untuk menjadi yang paling unggul. Tentunya hal ini membutuhkan persiapan yang matang. Meskipun hasil akhirnya belum tentu sebagai pemenang, tetapi sudah berhasil menunjukkan kemampuan terbaik yang dimiliki merupakan prestasi tersendiri yang patut diapresiasi.

5)     Menjadi pribadi yang disiplin dan bertanggungjawab

Keinginan untuk menjadi yang terbaik harus diikuti dengan sikap disiplin dan tanggungjawab. Keduanya merupakan modal utama meraih kesuksesan dalam sebuah kompetisi.

6)     Mempererat hubungan antar sesama

Pesaing bukan musuh yang harus dikalahkan tetapi merupakan rekan kerja dalam berkompetisi secara sehat. Pekerjaan yang dilakukan secara bersamasama akan mempererat tali persaudaraan di antara sesama.

 


Minggu, 19 Mei 2024

Posted by Rumah Ratu On Minggu, Mei 19, 2024

 

 

Beriman kepada rasul-rasul Allah Subhanahu Wa Ta'ala merupakan salah satu rukun dari lima rukun iman yang wajib diketahui oleh setiap muslim. Memang ada perbedaan antara nabi dan rasul nabi belum tentu dia adalah seorang rasul tetapi seorang Rasul pasti dia seorang nabi karena nabi dipilih oleh Allah dan diberi wahyu untuk dirinya sendiri dan tidak memiliki kewajiban untuk menyampaikan kepada umatnya berkaitan tentang jumlah nabi menurut Imam Ahmad jumlah nabi adalah  124.000 nabi sementara Rasul adalah  manusia pilihan Allah subhanahu wa ta'ala yang diangkat sebagai utusan untuk menyampaikan firman Allah kepada umat manusia dan jumlahnya menurut Imam Ahmad 315 namun menurut Imam atur movie jumlah Rasul adalah 312 dengan banyaknya jumlah nabi dan rasul maka tentu kita akan merasa kesulitan dalam menghafalnya ataupun mengetahuinya yang wajib kita ketahui hanya ada 25 nabi dan rasul dari Nabi Adam sampai dengan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam.

Beriman kepada rasul berarti meyakini bahwa rasul itu benar-benar utusan Allah yang ditugaskan untuk membimbing umatnya ke jalan yang benar agar selamat di dunia dan di akhirat, mengetahui mengimani rasul-rasul Allah merupakan kewajiban sebagai perwujudan rukun iman dan kita wajib menerima ajaran yang dibawa oleh rasul-rasul Allah sebagaimana firman Allah dalam Quran surah an-nisa ayat 136 

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ ءَامِنُوا۟ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَٱلْكِتَٰبِ ٱلَّذِى نَزَّلَ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ وَٱلْكِتَٰبِ ٱلَّذِىٓ أَنزَلَ مِن قَبْلُ ۚ وَمَن يَكْفُرْ بِٱللَّهِ وَمَلَٰٓئِكَتِهِۦ وَكُتُبِهِۦ وَرُسُلِهِۦ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَٰلًۢا بَعِيدًا

Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.

Rasul-rasul Allah memiliki tugas yang Allah berikan kepadanya di antaranya adalah

  1. Mengajak umat manusia untuk beribadah hal ini sebagaimana dalam Quran surah an-nahl ayat 36

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِى كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولًا أَنِ ٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَٱجْتَنِبُوا۟ ٱلطَّٰغُوتَ ۖ فَمِنْهُم مَّنْ هَدَى ٱللَّهُ وَمِنْهُم مَّنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ ٱلضَّلَٰلَةُ ۚ فَسِيرُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ فَٱنظُرُوا۟ كَيْفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلْمُكَذِّبِينَ

Artinya: Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu", maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).

  1. Menyampaikan Dan menegakkan syariat Allah
  2. Menyampaikan kabar gembira berupa pahala dan juga dosa kabar gembira berupa surga dan neraka
  3.  menjadi teladan bagi umat manusia. 

 

Selain memiliki tugas-tugas tersebut Para Rasul juga memiliki kekhususan yang tidak dimiliki oleh manusia lain selain mereka diantara kekhususan-kekhususan tersebut adalah:

a.              Mendapatkan Wahyu 

            Mendapatkan Wahyu merupakan kekhususan para rasul-rasul Allah dan ini merupakan tugas para rasul menjadi perantara antara Allah dan hamba-hambanya Allah berfirman dalam Quran surah al-kahfi ayat 110

 قُلْ إِنَّمَآ أَنَا۠ بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوحَىٰٓ إِلَىَّ أَنَّمَآ إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَٰحِدٌ ۖ فَمَن كَانَ يَرْجُوا۟ لِقَآءَ رَبِّهِۦ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَٰلِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦٓ أَحَدًۢا

Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa". Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya".

  1. Maksum

            Para rasul terpelihara dari segala dosa dan kesalahan hal ini dikarenakan Para Rasul adalah utusan Allah sehingga tidak diharapkan ada kesalahan dalam penyampaian syariat dan agama Allah jikalau diantara para rasul ada yang bersalah maka Allah Subhanahu Wa Ta'ala akan secara langsung menegur kesalahan tersebut untuk diperbaiki 

 

Selain itu Para Rasul juga memiliki beberapa sifat yang harus ada dalam diri mereka diantaranya adalah

  1.  As Siddiq

Para rasul selalu benar dan jujur sehingga apa yang mereka sampaikan itu benar adanya Dengan demikian maka tersampaikanlah apa yang telah menjadi tugas-tugasnya hal ini disampaikan oleh Allah dalam Quran Surah Maryam ayat 41

وَٱذْكُرْ فِى ٱلْكِتَٰبِ إِبْرَٰهِيمَ ۚ إِنَّهُۥ كَانَ صِدِّيقًا نَّبِيًّا

Ceritakanlah (Hai Muhammad) kisah Ibrahim di dalam Al Kitab (Al Quran) ini. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan lagi seorang Nabi.

2.     Amanah 

Setiap Rasul pasti memiliki sifat amanah Yaitu dapat dipercaya tidaklah mungkin seseorang itu menjadi rasul kalau tidak dipercaya Meskipun banyak diantara mereka yang mengingkari apa yang para rasul bahwa.  Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam merupakan orang yang dapat dipercaya meskipun orang-orang Quraisy tidak mempercayai agama yang beliau bawa Hal ini terbukti di saat beliau hijrah ke Madinah Nabi Muhammad berpesan kepada Ali radhiyallahu Anhu agar beliau mengembalikan barang-barang titipan orang-orang Quraisy yang masih ada di dalam rumah beliau hal ini menunjukkan bahwa meskipun agama yang dibawa Nabi Muhammad tidak diterima oleh orang-orang Quraisy namun kepribadian Nabi Muhammad mereka percayai sebagai orang yang dapat menjaga amanah

3.              Tabligh

Para rasul memiliki kewajiban untuk menyampaikan wahyu sehingga tidak ada satupun ayat yang disembunyikan pastilah segala perintah dan larangan Allah mereka sampaikan

4.              Fathonah

 Para rasul memiliki kecerdasan yang luar biasa dibandingkan orang-orang lainnya sehingga dengan kecerdasan tersebut para rasul dapat menyampaikan ajaran-ajaran Agamanya dan menghindari perselisihan salah satu contoh adalah di saat Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam diminta untuk meletakkan Hajar Aswad dalam proses renovasi Ka'bah pada saat itu rasulullah terpilih menjadi orang yang berhak meletakkan Hajar Aswad dengan tangannya namun dengan kecerdasan beliau Rasul meminta seluruh  pembuka dan ketua kabilah memegang sorban beliau dan Kemudian beliau meletakkan Hajar Aswad di atas sorban dan membawa secara bersama-sama Hajar Aswad itu ke tempatnya lalu barulah beliau meletakkan Hajar Aswad itu dengan tangan Beliau ini menunjukkan bahwa Nabi Muhammad dan para rasul-rasul yang lain adalah orang-orang yang cerdas 

 

Selasa, 14 Mei 2024

Posted by Rumah Ratu On Selasa, Mei 14, 2024


 

Menghormati orang tua adalah sebuah kewajiban bagi seorang anak di dalam Islam hal ini juga sangat ditekankan dan ini merupakan kewajiban seorang anak kepada orang tuanya banyak dalil yang membahas tentang kewajiban berbakti kepada orang tua diantaranya adalah Alquran Surah alisra ayat 23 sampai 24 

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوٓا۟ إِلَّآ إِيَّاهُ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَٰنًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ ٱلْكِبَرَ أَحَدُهُمَآ أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَآ أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.

وَٱخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ ٱلذُّلِّ مِنَ ٱلرَّحْمَةِ وَقُل رَّبِّ ٱرْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِى صَغِيرًا

 

rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil".

Dari ayat ini kita mengetahui bahwasanya seorang anak memiliki kewajiban untuk berbakti kepada kedua orang tuanya bahkan menghinakan diri di hadapan orang tua ini termasuk dari anjuran agama, kemudian dilarang bagi seorang anak mengatakan perkataan yang tidak disenangi oleh orang tua, dilarang membentak bahkan perkataan ah saja tidak diperbolehkan di akhir ayat ini Allah Subhanahu Wa Ta'ala memerintahkan kaum muslimin untuk memohon rahmat bagi kedua orang tua baik yang masih hidup ataupun yang sudah meninggal sebagai balasan atas pembinaan mereka.

Sebagai seorang anak juga penting kiranya minta doa kepada kedua orang tua dalam segala kegiatan apapun itu terlebih lagi seorang anak itu akan melakukan perkara yang penting seperti menuntut ilmu mencari pekerjaan mencari jodoh dan lain sebagainya karena ridho kedua orang tua ini merupakan hal yang sangat penting dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Al Baihaqi beliau menyebutkan

رضا الله في رضا الوالدين وسخت الله في سخط الوالدين (رواه البيهقيي

Ridho Allah terletak pada Ridho orang tua tua dan murka Allah terletak pada kemurkaan kedua orang tua hadits riwayat (Al Baihaqi)

عن عبد الله رضي الله عنه قال سالت النبي صلى الله عليه وسلم اي العمل احب الى الله قال الصلاه على وقتها قال ثم اي قال بر الوالدين قال ثم اين قال الجهاد في سبيل الله رواه البخاري 

Aku bertanya kepada Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam amalan apakah yang paling dicintai Allah Subhanahu Wa Ta'ala beliau menjawab salat pada waktunya aku berkata kemudian apalagi beliau menjawab berbakti kepada kedua orang tua Kemudian aku bertanya lagi Kemudian apa beliau menjawab kemudian jihad di jalan Allah hadits riwayat Al-Bukhari

Birrul walidaini atau berbakti kepada kedua orang tua ini tidak hanya sebatas berbuat baik saja berkata baik berperilaku baik tetapi memiliki makna berbakti berbakti itu bukan balasan yang setara jika dibandingkan dengan kebaikan yang telah diberikan orang tua namun setidaknya berbakti sudah dapat menggolongkan pelakunya sebagai orang-orang yang bersyukur.

Imam an-nawawi pernah berkata bahwasanya arti dari birrul walidaini adalah bersikap baik terhadap kedua orang tua melakukan hal-hal yang dapat membuat mereka bergembira serta berbuat baik kepada teman-teman mereka 

Sedangkan menurut Imam az-zahabi birrul walidaini hanya dapat direalisasikan dengan memenuhi tiga bentuk kewajiban

1.     Menaati segala perintah orang tua kecuali dalam maksiat

2.     Menjaga amanah harta yang dititipkan orang tua atau diberikan orang tua

3.     Membantu atau menolong orang tua bila mereka membutuhkannya 

Di sekolah guru merupakan salah satu orang tua kita maka kedudukan guru itu hampir sama dengan kedudukan orang tua di rumah.  oleh karenanya guru memiliki hak dan kewajiban yang hampir sama dengan orang tua