Rabu, 29 Juli 2026

Posted by Rumah Ratu On Rabu, Juli 29, 2026


 

a.      Arti Ghaib

Kata ghaib, menurut Lisaanul Arab berasal dari kata ghoba (tidak tampak, tidak hadir)dengan kata lain Ghaib adalah sesuatu yang tidak tampak dengan pancaindra seperti mata kita atau sesuatu yang tidak tampak secara kasat mata yang hanya diketahui oleh Allah Azza wa Jalla seperti pengetahuan kapan mereka dibangkitkan. Namun, Allah Azza wa Jalla tidak mengatakan apa yang diketahui oleh Allah Azza wa Jalla seluruhnya tidak disampaikan kepada manusia karena Allah Azza wa Jalla berfirman pada Surah Al-Jin ayat 26-27 yang artinya, Tuhan Maha Mengetahui yang ghaib. Maka Dia tidak akan membukakan keghaibannya itu kepada seorang pun, kecuali kepada Rasul yang dikehendaki.

Dan firman-Nya dalam Surah Al-Isra'  ayat 85 yang artinya, Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: "Ruh inu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit".

Allah Azza wa Jalla juga berfirman dalam Surah Al-An'am ayat 50 yang artinya, Katakanlah: "Aku tidak mengatakan kepadamu bahwa perbendaharaan Allah Azza wa Jalla ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Katakanlah: "Apakah sama orang yang buta dengan yang melihat?" Maka apakah kamu tidak memikirkan(nya)?".

Melalui ketiga firman Allah Azza wa Jalla SWT tersebut dapat diketahui bahwa Allah Azza wa Jalla memberikan pengetahuan tentang hal ghaib walaupun sedikit atau sebatas apa yang diwahyukan kepada rasul yang dikehendaki-Nya, tentulah rasul yang dikehendaki-Nya adalah Muhammad. Rasulullah mengetahui tentang ghaib berdasarkan al-khabar as-sadiq (pemberitaan valid) dari Allah Azza wa Jalla Azza wa Jalla seperti pengetahuan tentang malaikat, jin, dan adanya akhirat. Rasulullah juga mengetahui tentang ghaib berdasarkan pengalaman beliau "diperjalankan" hingga sampai kepada Allah Azza wa Jalla Azza wa Jalla dengan peristiwa Isra Mi'raj. Begitu pula kita muslim pada umumnya akan mendapatkan pengetahuan tentang ghaib berdasarkan apa yang telah disampaikan oleh Rasulullah. Namun, pengetahuan tentang ghaib yang lebih jauh hanya khusus untuk hamba Allah Azza wa Jalla yang dikehendaki-Nya.

Bagaimana seorang hamba Allah "diperjalankan" hingga sampai kepada Allah Azza wa Jalla Azza wa Jalla dengan dzikrullah? Dzikrullah yang utama adalah shalat. Nabi Muhammad saw. bersabda, Ash-shalatul Mi'rajul Mu'minin (shalat itu adalah mi'rajnya orang-orang mukmin). Mi'raj yang dimaksud yaitu naiknya jiwa meninggalkan ikatan nafsu yang terdapat dalam fisik manusia menuju ke hadirat Allah Azza wa Jalla.

Contoh dalam urusan shalat yang berhubungan dengan ghaib adalah makna bersuci (thaharah) secara batin.

Rasulullah. juga bersabda, "Kunci perkara ghaib itu ada lima, tidak ada seorangpun yang mengetahuinya melainkan Allah Azza wa Jalla Ta'ala: 'Tidak ada seorangpun yang mengetahui apa yang akan terjadi esok selain Allah Azza wa Jalla Ta'ala, dan tidak ada seorangpun mengetahui apa yang ada di dalam kandungan selain Allah Azza wa Jalla Ta'ala, dan tidak ada seorangpun yang mengetahui kapan terjadinya hari kiamat selain Allah Azza wa Jalla Ta'ala, dan tidak ada seorangpun yang mengetahui di bumi mana dia akan mati selain Allah Azza wa Jalla Ta'ala, dan tidak seorangpun yang mengetahui kapan hujan akan turun selain Allah Azza wa Jalla Ta'ala".

(Hadis Riwayat Imam Bukhari dan Imam Ahmad dari Ibnu Umar)

b.      Ayat-Ayat Al-Quran yang menjelaskan tentang hal Ghaib

1.      Surah Hud (11) Ayat 123

وَلِلَّهِ غَيْبُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَإِلَيْهِ يُرْجَعُ ٱلْأَمْرُ كُلُّهُۥ فَٱعْبُدْهُ وَتَوَكَّلْ عَلَيْهِ ۚ وَمَا رَبُّكَ بِغَٰفِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

Artinya: Dan kepunyaan Allah-lah apa yang ghaib di langit dan di bumi dan kepada-Nya-lah dikembalikan urusan-urusan semuanya, maka sembahlah Dia, dan bertawakkallah kepada-Nya. Dan sekali-kali Tuhanmu tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan.

Cari hukum Tajwid dari ayat diatas

No

Lafadz

Hukum Tajwid

Keterangan

1

ٱلسَّمَٰوَٰتِ

Alif lam syamsiah

Alif lam bertemu huruf sin

2

ٱلْأَرْضِ

 

 

3

فَٱعْبُدْهُ

 

 

4

بِغَٰفِلٍ

 

 

5

عَمَّا

 

 

 

2.      Surah Al-Hasyr (59) Ayat 22

 

هُوَ ٱللَّهُ ٱلَّذِى لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ عَٰلِمُ ٱلْغَيْبِ وَٱلشَّهَٰدَةِ ۖ هُوَ ٱلرَّحْمَٰنُ ٱلرَّحِيمُ

Artinya: Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dialah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

 

Cari hukum Tajwid dari ayat diatas

No

Lafadz

Hukum Tajwid

Keterangan

1

وَٱلشَّهَٰدَةِ

Alif lam syamsiah

Alif lam bertemu huruf syin

2

لَآ إِلَٰهَ

 

 

3

هُوَ ٱلرَّحْمَٰنُ

 

 

4

ٱلرَّحِيمُ

 

 

5

عَٰلِمُ ٱلْغَيْبِ

 

 

 

3.      Surah As- Sajadah (23) Ayat 6

 

ذَٰلِكَ عَٰلِمُ ٱلْغَيْبِ وَٱلشَّهَٰدَةِ ٱلْعَزِيزُ ٱلرَّحِيمُ

 

Artinya: Yang demikian itu ialah Tuhan Yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.

 

Cari hukum Tajwid dari ayat diatas

No

Lafadz

Hukum Tajwid

Keterangan

1

وَٱلشَّهَٰدَةِ

Alif lam syamsiah

Alif lam bertemu huruf syin

2

لَآ إِلَٰهَ

 

 

3

هُوَ ٱلرَّحْمَٰنُ

 

 

4

ٱلرَّحِيمُ

 

 

5

عَٰلِمُ ٱلْغَيْبِ

 

 

 

Kandungan isi Surah As-Sajdah [32] ayat 6 dan Surah Al-Hasyr [59] ayat 22 menjelaskan bahwa: Allah adalah Tuhan Yang Maha Esa tidak ada Tuhan selain Dia yang mengetahui segala yang ghaib dan yang nyata, yang Maha Perkasa, Maha Pemurah, dan Maha Penyayang. Adapun hal-hal yang ghaib itu meliputi: alam akhirat, alam Barzah, Alam Arwah, Kursi, 'Arasy, Lauhul Mahfuzh, Sidratul Muntaha, Mizan, Shirathal Mustaqiim, Padang Mahsyar, serta Surga dan Neraka. Semua itu merupakan hal-hal ghaib yang wajib kita imani keberadaannya jangan sampai kita mengingkarinya.


Kerjakan Asesmen berikut 

https://forms.gle/A9Fs8sA1RAx4C6RF7 

Jumat, 24 Juli 2026

Posted by Rumah Ratu On Jumat, Juli 24, 2026

 BAB I 

Meraih Kesuksesan dengan Kompetisi dalam Kebaikan dan Etos Kerja





            Siapakah di antara kalian yang ingin sukses?. Tentu semua orang ingin sukses, termasuk kalian. Namun perlu diketahui bahwa untuk meraih kesuksesan tersebut bukanlah perkara mudah. Kalian harus mampu mengatasi semua hambatan, tantangan, dan rintangan dengan ketekunan dan kerja keras.

Di samping itu, doa dari orang tua dan guru juga sangat dibutuhkan agar Allah Swt. yang Maha Pemberi Rezeki memberi jalan kemudahan dan keberkahan. Mari kita bahas Q.S. al-Maidah/5: 48 tentang Kompetisi dalam Kebaikan

a.      Membaca Q.S. al-Maidah/5: 48

وَأَنزَلْنَآ إِلَيْكَ ٱلْكِتَٰبَ بِٱلْحَقِّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ ٱلْكِتَٰبِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ ۖ فَٱحْكُم بَيْنَهُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَآءَهُمْ عَمَّا جَآءَكَ مِنَ ٱلْحَقِّ ۚ لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا ۚ وَلَوْ شَآءَ ٱللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَٰحِدَةً وَلَٰكِن لِّيَبْلُوَكُمْ فِى مَآ ءَاتَىٰكُمْ ۖ فَٱسْتَبِقُوا۟ ٱلْخَيْرَٰتِ ۚ إِلَى ٱللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ

b.      Mengidentifikasi Hukum Bacaan Tajwid Q.S. al-Maidah/5: 48

Setelah membaca dan mencermati ulasan tajwid di atas, tulislah seluruh  hukum bacaan tajwid dalam Q.S. al-Maidah/5:48 beserta alasanya!

c.       Mengartikan Per Kata Q.S. al-Maidah/5:48

Setelah membaca dan mencermati ulasan tajwid di atas, tulislah seluruh

 

d.      Menterjemahkan Ayat Q.S. al-Maidah/5: 48

Dan Kami telah menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu (Muhammad) dengan membawa kebenaran, yang membenarkan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya dan menjaganya, maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang diturunkan Allah dan janganlah  engkau mengikuti keinginan mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk setiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Kalau Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap karunia yang telah diberikan-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah kamu semua kembali, lalu diberitahukan-Nya kepadamu terhadap apa yang dahulu kamu perselisihkan.” (Q.S. al-Maidah/5: 48)

e.      Menelaah Tafsir Q.S. al-Maidah/5: 48

Dalam Ayat Q.S. al-Maidah/5: 48 mengandung pesan-pesan mulia sebagai berikut:

1.      Al-Qur’an diturunkan oleh Allah Swt. dengan haq (kebenaran), yakni haq dalam kandungannya, cara turunnya, maupun yang mengantarnya turun (Jibril a.s.).

2.      Kitab Al-Qur’an berfungsi membenarkan kitab-kitab sebelumnya, yakni Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa a.s., Zabur yang diturunkan kepada Nabi Daud a.s., dan Injil yang diturunkan kepada Nabi Isa a.s.  Dalam hal ini Al-Qur’an adalah muhaimin terhadap kitab-kitab terdahulu karena ia menjadi saksi atas kebenaran kandungan kitab-kitab terdahulu.

3.      Kitab suci Al-Qur’an juga menjadi pengawas, pemelihara, penjaga kitabkitab terdahulu dan menjadi tolok ukur kebenaran terhadapnya, serta menjadi saksi untuk keabsahannya. Dalam kedudukannya sebagai pemelihara, Al-Qur’an memelihara dan mengukuhkan prinsip ajaran Ilahi yang bersifat universal (kully) dan mengandung kemaslahatan abadi bagi umat manusia sepanjang masa.

4.      Allah memerintahkan agar menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup. Hendaklah orang beriman memutuskan perkara berdasarkan kitab suci Al-Qur’an dan tidak boleh bertentangan dengannya. Bahkan dalam Q.S. al-Maidah/5: 3 dinyatakan bahwa agama Islam telah sempurna, nikmat yang diturunkan oleh Allah Swt. kepada kaum muslimin sudah sempurna, dan Allah Swt. telah meridai Islam sebagai jalan kehidupan semua manusia.  Maka tidak ada lagi alasan untuk meninggalkan sebagian ajarannya untuk berpindah pada ajaran lain.

5.      Tiap-tiap umat memiliki aturan (syariat) yang akan menuntunnya menuju kebahagiaan abadi. Allah Swt. juga mengkaruniakan jalan terang (manhaj) yang dilalui oleh manusia dalam menjalankan aturan beragama.

6.      Allah Swt. telah menjadikan syariat Nabi Muhammad Saw. sebagai penyempurna syariat para nabi terdahulu serta membatalkan syariat sebelumnya. Seandainya Allah. menghendaki, niscaya umat Nabi Musa a.s., Nabi Isa a.s., dan umat Nabi Muhammad Saw. akan dijadikan satu umat saja. Tetapi hal ini tidak dikehendaki oleh Allah Swt.

7.      Umat Islam diperintahkan untuk berlomba-lomba dengan sungguh sungguh dalam berbuat kebaikan dan menghindari perdebatan yang tidak perlu hingga menghabiskan waktu sia-sia. Allah Swt. telah menetapkan berbagai macam syariat untuk menguji siapakah di antara hamba-Nya yang taat dan durhaka. Bagi yang taat akan memperoleh pahala, sedangkan siksa bagi seseorang yang durhaka. Sesungguhnya semua manusia akan kembali kepada Allah Swt. dan akan diberitahukan apa yang telah diperselisihkan. Hal yang diperselisihkan ini adalah tentang kehidupan akhirat. Orang-orang kafir tidak percaya adanya akhirat. Karenanya mereka akan diberitahu dan mendapatkan balasan atas perbuatan mereka, yakni dimasukkan ke dalam api neraka. Sedangkan bagi orang mukmin yang beramal shalih, akan mendapatkan balasan surga

Posted by Rumah Ratu On Jumat, Juli 24, 2026

 

Bab I Membiasakan Berpikir Kritis[1]



  • Q.S. Ali ‘Imrān/3: 190-191 

Mari membaca dengan fasih dan benar Q.S. Ali ‘Imrān/3: 190-191  berikut ini. Sesuaikan bacannya dengan menggunakan Ilmu Tajwid dan  Makharijul huruf!

إِنَّ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَٱخْتِلَٰفِ ٱلَّيْلِ وَٱلنَّهَارِ لَءَايَٰتٍ لِّأُو۟لِى

 ٱلْأَلْبَٰبِ ٱلَّذِينَ يَذْكُرُونَ ٱللَّهَ قِيَٰمًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَٰطِلًا سُبْحَٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ

 

  • Analisis Hukum Tajwid

Mari perhatikan dengan cermat teks Q.S. Ali ‘Imrān/3: 190-191. Buatlah kajian  dari aspek ilmu tajwidnya. Berikut ini ada beberapa contoh, selanjutnya  kembangkan untuk kalimat atau lafal yang lain dari ayat tersebut!

 

No

Kalimat

Hukum Bacaan

Sebab

1

إِنَّ

Ghunnah

Nun Bertasydid

2

ٱلسَّمَٰوَٰتِ

 

 

3

ٱلْأَرْضِ

 

 

4

ٱلنَّهَارِ

 

 

5

قِيَٰمًا وَقُعُودًا

 

 

6

رَبَّنَا

 

 

7

خَلَقْتَ

 

 

 

  •        Mengartikan Perkata

Coba cermati teks Q.S. Ali ‘Imrān/3: 190-191. kata per kata. Maknai dari  kata atau lafal dari ayat tersebut yang belum ada artinya!

  •  Menerjemahkan Ayat

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan  siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal (Q.S. Ali ‘Imrān/3: 190).

(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam  keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit  dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan  semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.  (Q.S. Ali ‘Imrān/3: 191)

  • Isi dan Kandungan Ayat

Memahami ayat Al-Qur’an, tidak cukup hanya berdasar terjemah saja, tetapi  harus berlandaskan kepada buku tafsir yang mu’tabar (otoritatif). Berikut ini, kandungan isi Q.S. Ali Imrān/3: 190-191:

1.      Begitu banyak tanda-tanda kebesaran Allah Swt. yang dibentangkan di  langit dan bumi, termasuk pada diri manusia, semua itu harus dijadikan sebagai sarana  berpikir bagi umat manusia, khususnya orang beriman,  agar dapat mengambil manfaat, faedah, dan hikmah dari keberadaan  alam semesta.

2.      Penciptaan alam semesta, meliputi silih bergantinya siang dan malam,  pusaran angin, keteraturan lintasan benda-benda langit, dan bumi  dengan segala isinya, semua itu jangan hanya dijadikan sebagai peristiwa  biasa, tanpa hikmah dan tujuan, tetapi harus dipikirkan, diteliti, dan  dieksplorasi, sehingga keberadannya semakin terbuka dan dapat diambil sisi positif dan negatifnya melalui akal pikiran serta akal budi yang dimiliki oleh setiap orang;

3.      Semua manfaat, faedah, dan hikmah dari beragam peristiwa yang tersebar di alam semesta tersebut, hanya dapat dipahami oleh orang-orang yang memiliki akal pikiran yang sehat serta akal budi yang dikenal dengan istilah ulil albab atau ulul albab;

4.      Ulil Albab adalah orang yang memiliki akal pikiran yang lurus, nurani yang bersih, serta menjadi hamba Allah Swt. yang mengisi setiap  waktunya untuk memikirkan segala penciptaan dan peristiwa di alam raya ini, sehingga menghasilkan kesimpulan bahwa semua ini membawa manfaat, tidak ada yang sia-sia, akhirnya hidupnya semakin dekat (taqarrub) kepada Allah

5.      Tanda lain Ulil Albab adalah mereka yang dalam kondisi apapun (duduk, berdiri, dan berbaring) yang artinya juga saat mampu, kaya, atau terpuruk, kondisi riang gembira, atau sedih, semua itu tidak menghalangi untuk  mengambil maslahat dari segala ciptaan Allah Swt. baik untuk diri sendiri,  lingkungan yang mengitarinya, maupun masyarakat secara luas.

6.      Ulil Albab juga melakukan pemikiran kritis, utuh, obyektif, dan seimbang terhadap segala problem yang muncul, sehingga buah pemikirannya memberi banyak manfaat, jauh dari kebencian dan sengketa, apalagi  kerancuan dan kebimbangan, akhirnya memunculkan kedamaian, kesejukan, serta solusi terbaik bagi semuanya.

7.      Setiap orang beriman sangat dituntut, agar penggunaan akal pikiran dan akal budinya, menghasilkan kesadaran diri bahwa semua penciptaan itu bersumber dari Allah. Selanjutnya, mengajak diri dan orang lain, agar semakin dekat (taqarrub) kepada Allah Swt. Melalui pendekatan tersebut, keselamatan dan kesuksesan dunia akhirat dapat diraih, akhirnya terhindar dari kesengsaraan, kegagalan dan kehinaan.

8.      Seperti peran dari ulil albab, Ayat ini mengajak juga agar di setiap komunitas dan masyarakat, bahkan dalam lingkup yang lebih luas, ada kelompok orang yang berperan sebagai pemikir dan penengah dari problema yang muncul, sehingga terhindar dari hoax, berita bohong, dan informasi yang tidak benar.



[1] Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas XI

Senin, 27 April 2026

Posted by Rumah Ratu On Senin, April 27, 2026

 

Makanan dan Minuman Halal

Makan dan minum merupakan kebutuhan manusia. Dengan makan dan minum manusia bisa mempertahankan hidup di dunia ini. dan dengan karunia Allah manusia mendapatkan rezeki yang bisa digunakan untuk mendapatkan makanan dan minuman. Tidak hanya manusia, hewan pun mendapatkan karunia Allah ﷻberupa makanan dan minuman sehingga bisa berkembang biak.

Manusia dan hewan jelaslah berbeda dalam hal makan dan minum. Hewan tidak punya aturan dalam makan dan minum. Tidak peduli apa yang ia makan, bahkan ada yang  makan kotorannya sendiri. Hal demikian karena hewan tidak punya akal. Akan tetapi, manusia adalah makhluk yang berakal yang memiliki tata aturan dalam hal makan dan minum. Seorang muslim mempunyai pedoman hidup yang semua aspek kehidupan sampai aturan dalam makan dan minum. Akan tetapi, walaupun ada aturan yang mengatur masih tetap ada yang melanggarnya, Masih ada di antara kaum muslimin yang makan dan minum dari barang yang haram. Ada juga yang makan dan minum tidak mengindahkan adab-adabnya.

Sebagai umat Islam hendaknya Kita bertakwa kepada Allah ﷻSWT dengan cara mengonsumsi makanan yang halal dan menjauhi makanan haram. Selain itu, makanan halal juga harus baik. Makanan yang baik mempunyai pengaruh yang besar bagi manusia, yaitu berpengaruh terhadap akhlaknya, kehidupannya, hatinya,  serta diterimanya amal-amal kita Sedangkan makanan yang haram Mempunyai dampak buruk bagi manusia. Salah satu dampak yang timbul yaitu tidak dikabulkannya doa. Meskipun hanyalah tidak dikabulkannya doa niscaya hal itu Merupakan Kerugian yang besar. Karena seorang hamba tidak lepas dari kebutuhan berdoa kepada Allah ﷻ.

Diantara perintah terkait makan dan minum yang halal Allah berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 168

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ كُلُوا۟ مِمَّا فِى ٱلْأَرْضِ حَلَٰلًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا۟ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيْطَٰنِ ۚ إِنَّهُۥ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ

Arab-Latin: Yā ayyuhan-nāsu kulụ mimmā fil-arḍi ḥalālan ṭayyibaw wa lā tattabi'ụ khuṭuwātisy-syaiṭān, innahụ lakum 'aduwwum mubīn

Artinya: Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.

Ayat ini dialamatkan kepada seluruh manusia, baik yang Mukmin maupun yang kafir. Allah ﷻ telah memberikan karunia kepada mereka dengan memerintahkan kepada mereka untuk makan dari seluruh yang ada di bumi seperti biji-bijian, hasil tanaman, buah-buahan, dan hewan dalam keadaan “yang halal,” yaitu yang telah dihalalkan buat kalian untuk dikonsumsi, yang bukan dari rampasan maupun curian, bukan pula diperoleh dari hasil transaksi bisnis yang diharamkan, atau dalam bentuk yang diharamkan, atau dalam hal yang membawa kepada yang diharamkan, “lagi baik,” maksudnya, bukan yang kotor seperti bangkai, darah, daging babi, dan seluruh hal-hal yang kotor dan jorok.

Di dalam Ayat ini terdapat Dalil yang menunjukkan bahwa asalnya seluruh benda yang ada itu adalah boleh, hukumnya baik untuk dimakan maupun dimanfaatkan, dan bahwa hal-hal yang diharamkan darinya itu ada dua macam;

Pertama, yang diharamkan karena dzatnya yaitu yang kotor yang merupakan lawan dari yang baik (Thayyib),

Kedua, diharamkan karena dikaitkan dengan sesuatu, yaitu yang diharamkan karena bersangkutan dengan hak-hak Allah ﷻ atau hak-hak manusia, yaitu yang merupakan lawan dari yang halal.

Ayat ini juga sebagai dalil bahwa makanan dengan kadar untuk memenuhi Fitrah adalah wajib, dan akan berdosa orang yang meninggalkannya dengan dasar makna perintah yang jelas dari ayat tersebut.[1]

Pelajaran dari ayat :

1.      Kewajiban untuk mencari yang halal dan mencukupkan diri dengan hidup dari yang halal walaupun hanya sedikit.

2.      Halal adalah apa yang Allah ﷻhalalkan, dan haram adalah apa yang Allah ﷻharamkan. Sementara akal tidak dapat menentukan halal dan haram sendiri.

3.      Keharaman mengikuti langkah-langkah setan, yaitu setiap ideologi, perkatan, dan perbuatan yang dilarang oleh Allah.

4.      Kewajiban untuk menjauhi setiap keburukan dan hal yang keji, karena keduanya merupakan perintah setan.

Firman Allah dalam Q.S Al-Maidah Ayat 87

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تُحَرِّمُوا۟ طَيِّبَٰتِ مَآ أَحَلَّ ٱللَّهُ لَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوٓا۟ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلْمُعْتَدِينَ

Arab-Latin: Yā ayyuhallażīna āmanụ lā tuḥarrimụ ṭayyibāti mā aḥallallāhu lakum wa lā ta'tadụ, innallāha lā yuḥibbul-mu'tadīn

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah ﷻ halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah ﷻ tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.

وَكُلُوا۟ مِمَّا رَزَقَكُمُ ٱللَّهُ حَلَٰلًا طَيِّبًا ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ٱلَّذِىٓ أَنتُم بِهِۦ مُؤْمِنُونَ

Arab-Latin: Wa kulụ mimmā razaqakumullāhu ḥalālan ṭayyibaw wattaqullāhallażī antum bihī mu`minụn

Artinya: Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah ﷻtelah rezekikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah ﷻyang kamu beriman kepada-Nya.

Dalam hadits shahih Bukhari Muslim diriwayatkan dari Aisyah bahwa ada sekelompok orang dari sahabat Rasulullah SAW bertanya kepada istri-istri Nabi SAW tentang amal beliau yang tersembunyi. Lalu sebagian mereka berkata,"Aku tidak makan daging" Sebagian lain berkata "Aku tidak menikahi wanita" Dan lainnya berkata, Aku tidak tidur di atas kasur" Lalu hal itu sampai kepada Nabi SAW, lalu beliau bersabda: “Apakah yang dialami oleh kaum itu, seseorang dari mereka mengatakan ini dan itu, tetapi aku berpuasa dan berbuka, aku tidur dan bangun, aku makan daging, dan aku menikahi wanita. Maka barangsiapa yang tidak suka dengan sunnahku, maka dia bukan dari golonganku”

Firman Allah ﷻSWT (dan janganlah kalian melampaui batas) Maksud dari hal tersebut adalah,”Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam mempersempit diri kalian dengan mengharamkan hal-hal yang diperbolehkan bagi kalian. Sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian ulama Salaf. Hal itu juga bisa bermakna: Sebagaimana kalian jangan mengharamkan yang halal, maka janganlah kalian melampaui batas dalam mengkonsumsi sesuatu yang halal, namun ambillah sesuai dengan kecukupan dan kebutuhan kalian, dan janganlah kalian melampaui batas dalam hal itu. Sebagaimana Allah ﷻSWT berfirman: (Makan dan minumlah dan janganlah berlebih-lebihan) (Surah Ali Imran: 31), dan (Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian (67) (Surah Al-Furqan) Allah ﷻmensyariatkan sikap tengah-tengah antara orang yang berlebihan dan orang yang bakhil dalam hal itu, yakni tidak berlebihan, dan tidak pula kurang. Oleh karena itu Allah ﷻberfirman: (Janganlah kalian haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah ﷻhalalkan bagi kalian, dan janganlah kalian melampaui batas. Sesungguhnya Allah ﷻtidak menyukai orang-orang yang melampaui batas) Kemudian berfirman (Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah ﷻtelah rezekikan kepada kalian) yaitu dalam keadaan halal dan baik (dan bertakwalah kepada Allah) yaitu dalam semua urusan kalian, dan ikutilah ketaatan kepadaNya dan sesuatu yang diridhai olehNya serta tinggalkanlah tindakan menentangNya dan durhaka kepadaNya. (dan bertakwalah kepada Allah ﷻyang kamu beriman kepada-Nya)[2]

Surat Al-Ma’idah ayat 88: Dalam ayat ini, Allah ﷻSubhaanahu wa Ta'aala memerintahkan kaum mukmin untuk menyelisihi orang-orang musyrik yang mengharamkan apa yang dihalalkan Allah ﷻTa'ala.

Makanan halal adalah makanan yang tidak haram, bukan makanan yang didapatkan dari mencuri, merampas dan mengambil tanpa hak. Sedangkan makanan yang baik adalah makanan yang tidak kotor.