Jumat, 15 Maret 2013

Perkembangan Islam klasik dan pertengahan


A.    Periodesasi Peradaban Islam
Menurut Harun Nasution dalam bukunya Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya (1979:56-89) Sejarah politik dunia Islam dibagi menjadi tiga periode: Pertama, periode klasik (650-1250 M); kedua, periode pertengahan (1250-1800 M); dan ketiga, periode modern (1800 sampai sekarang).[1]

 Pembahasan sejarah perkembangan peradaban Islam yang sangat panjang dan luas tidak dapat dilepaskan dari sejarah perkembangan politiknya. Bukan saja karena persoalan-persoalan politik sangat menentukan perkembangan aspek-aspek peradaban tertentu, tetapi terutama karena sistem politik dan pemerintahan itu sendiri merupakan salah satu aspek penting dari peradaban. Sebagaimana disebutkan diatas kemudian aspek-aspek lain yang tidak kalah penting pengaruhnya adalah sistem pemerintahan, ekonomi, ilmu pengetahuan, pendidikan dan seni budaya.
1.      Perkembangan Islam Periode Klasik
Periode pertama, atau periode Klasik dimulai dari masa Rasulullah hingga jatuhnya pemerintahan Bani Abbas di Baghdad. Periode ini ditandai dengan upaya perintisan perkembangan dan kemajuan puncak yang pertama peradaban Islam (650-1000 M). Berikutnya masa disintegrasi (1000-1250 M). Periode klasik ini diwakili oleh kekhalifahan Nabi Muhammad di Haramain (Makkah dan Madinah), Khulafa’ al-Rasyidin di Madinah, Dinasti Bani Umayyah di Damaskus, dan kemudian Dinasti Bani Abbas di Baghdad. Pada periode ini, masa dan prestasinya lebih banyak daripada periode-periode yang lain.
Pada periode klasik (650-1250 M), Islam mengalami dua fase penting :
1)      Fase ekspansi, integrasi dan puncak kemajuan (650-1000 M).Di fase inilah Islam di bawah kepemimpinan para khalifah mengalami perluasan pengaruh yang sangat signifikan, kearah barat melalui Afrika Utara Islam mencapai Spanyol dan ke arah timur melalui Persia Islam sampai ke India.
2)      Fase disintegrasi (1000-1250 M) yang ditandai dengan perpecahan dan kemunduran politik umat Islam hingga berpuncak pada terenggutnya Baghdad oleh bala tentara Hulagu di tahun 1258 M.
a.      Masa Nabi Muhammad
Nabi Muhammad menerima wahyu dari Malaikat Jibril ketika beliau berusia 40 tahun, pada mulanya beliau berdakwah secara sembunyi-sembunyi kepada keluarga dan sahabat dekat beliau. Sehingga mereka meyatakan masuk Islam dan dikenal sebagai “Assabiquna al-Awwaluun”. Kemudian turunlah perintah agar nabi menjalankan dakwah secara terbuka dan mendapat dukungan dari pamannya, akan tetapi beliau mendapatkan tantangan dari kaum Quraisy, semakin banyak pengikut Nabi Muhammad, semakin gencar mereka mencegah dakwah Rasulullah Saw. Beliau tetap pada pendiriannya, setelah paman beliau wafat
b.      Masa Kepemimpinan Khilafah Rasyidah
Setelah Rasulullah Saw meninggal dunia pada tahun 632 M, beliau digantikan oleh keempat orang sahabat terdekat, yakni Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali. Mereka kemudian dikenal dengan Khulafa’ al-Rasyidin, berarti para khalifah yang mendapat petunjuk dari Allah. Disebut demikian oleh karena, dibanding dengan rata-rata khalifah setelahnya, mereka masih konsisten menjaga apa yang pernah dicontohkan oleh Rasulullah Saw berupa akhlak dan petunjuk-petunjuk Allah khususnya dalam menjalankan kekhalifahannya. [2]
Abu bakar menjadi khalifah pertama yang menggantikan Rasulullah Saw melalui musyawarah oleh para tokoh dari kaum muhajirin dan anshar yang kemudian membaiatnya. Abu Bakar menjadi khalifah hanya dua tahun. Masa sesingkat itu habis untuk menyelesaikan persoalan dalam negeri terutama tantangan yang ditimbulkan oleh suku-suku bangsa Arab yang tidak mau tunduk kepada pemerintah Madinah, mereka menganggap bahwa perjanjian yang dibuat dengan Nabi Muhammad Saw, dengan sendirinya batal setelah Nabi wafat. Karena sikap keras dan penentangan mereka yang dapat membahayakan agama dan pemerintahan, Abu bakar menyelesaikan persoalan ini dengan perang Riddah (perang melawan kemurtadan).
Ketika Abu Bakar sakit dan merasa dekat dengan ajalnya, Abu Bakar bermusyawarah dengan para pemuka sahabat, kemudian mengangkat Umar sebagai penggantinya. Di zaman Umar inilah gelombang ekspansi (perluasan daerah kekuasaan) pertama terjadi, sehingga wilayah kekuasaan Islam sudah meliputi jazirah Arabia, Palestina, Syria, sebagian besar wilayah Persia dan Mesir. Umar memerintah selama sepuluh tahun (13-23 H/634-644 M). Masa jabatannya berakhir dengan kematian. Umar tidak menempuh jalan yang dilakukan oleh Abu Bakar. Dia menunjuk enam orang sahabat untuk bermusyawarah sehingga terpilihlah Usman sebagai khalifah.
Pemerintahan Usman berlangsung selama 12 tahun, di Masa pemerintahan Usman (644-655 M), Armenia, Tunisia, Cyprus, Rhodes, dan bagian yang tersisa dari Persia, Transoxania, dan Tabaristan berhasil direbut. Ekspansi Islam pertama berhenti sampai disini. Kepemimpinan Usman berbeda dengan kepemimpinan Umar, ini mungkin karena umurnya yang lanjut (diangkat dalam usia 70 tahun) dan sifatnya yang lemah lembut. Salah satu faktor yang menyebabkan rakyat kecewa dengan kepemimpinan Usman adalah kebijakannya yang mengangkat keluarga dalam kedudukan tinggi.
Setelah Usman wafat, masyarakat beramai-ramai membaiat Ali, Ali memerintah hanya enam tahun. Selama pemerintahannya, ia menghadapi berbagai pergolakan. Dia yakin bahwa pemberontakan terjadi karena para gubernur yang diangkat oleh Usman, sehingga Ali memecat mereka. Ali juga menghadapi pemberontakan Thalhah, Zubair, dan Aisyah karena Ali tidak mau menghukum pembunuh Usman. Bersamaan dengan itu kebijakan Ali juga mengakibatkan timbulnya perlawanan dari gubernur di Damaskus, yang didukung oleh sejumlah bekas pejabat tinggi yang merasa kehilangan kedudukan dan kejayaan. Akhirnya pasukan Ali bertemu dengan pasukan Mu’awiyah di Shiffin yang diakhiri dengan tahkim (arbitrase). Tapi tahkim tidak menyelesaikan masalah sehingga muncul golongan yang keluar dari barisan Ali (Khawarij) yang mana Ali dibunuh oleh salah satu anggota khawarij ini.
c.       Khilafah Bani Umayyah
Memasuki masa kekuasaan Muawiyah yang menjadi awal kekuasaan Bani Umayyah. Pemerintahan yang bersifat demokratis berubah menjadi monarchiheridetis (kerajaan turun temurun). Kekahalifahan Bani Umayyah diperoleh melalui kekrasan, diplomasi dan tipu daya, tidak dengan pemilihan atau suara terbanyak. Kepemimpinan ini dimulai ketika Mu’awiyah mewajibkan seluruh rakyatnya untuk menyatakan setia terhadap anaknya, Yazid. Mu’awiyah bermaksud mencontoh monarchi di Persia dan Byzantium.
Kekuasaan Bani Umayyah berumur kurang lebih 90 tahun. Ibu kota negara dipindahkan dari Madinah ke Damaskus. Tempat ia berkuasa sebagai gubernur sebelumnya. Khalifah-khalifah besar Dinasti Bani Umayyah ini adalah Mu’awiyah ibn Abi Sufyan (661-680 M), Abd al-Malik ibn Marwan (685-705 M), al-Walid ibn Abdul Malik (705-715 M), Umar ibn Abdul Aziz (717-720 M), dan Hasyim ibn Abdul al-Malik (724-743 M).
Ekpansi yang terhenti pada masa khalifah Usman dan Ali dilanjutkan kembali oleh dinasti ini. Di zaman Mu’awiyah, Tunisia dapat ditaklukkan. Disebelah timur, Mu’awiyah dapat menguasai daerah Khurasan sampai ke sungai Oxus dan Afghanistan sampai ke Kabul. Angkatan lautnya melakukan serangan ke ibukota Byzantium, Konstantinopel. Kemudian dilanjutkan oleh khalifah Abd al-Malik, dia mengirim tentara menyeberangi sungai Oxus dan berhasil menundukkan Balkh, Bukhara, Khawarizm, Ferghana dan Samarkand.
Ekspansi ke Barat secara besar-besaran dilanjutkan oleh al-Walid ibn Abdul Malik. Mulai dari ekspedisi militer dari Afrika Utara menuju wilayah barat daya, benua Eropa, yaitu pada tahun 711 M. Setelah Aljazair dan Maroko dapat ditaklukkan, Tariq bin Ziyad, pemimpin pasukan Islam. Dengan pasukannya menyeberangi selat yang memisahkan antara Maroko dan benua Eropa. Ditempat yang sekarang dikenal dengan Gibraltar (jabal Tariq). Tentara Spanyol dapat dikalahkan. Kemudian menyusul dengan kota-kota lain seperti Seville, Elvira, dan Toledo yang dijadikan ibukota Spanyol yang baru setelah jatuhnya Kordova.
Dengan keberhasilan Ekspansi ke beberapa daerah, baik di timur maupun barat, wilayah kekuasaan Islam masa Bani Umayyah ini betul-betul sangat luas. Daerah-daerah itu meliputi Spanyol, Afrika Utara, Syria, Palestina, Jazirah Arabia, Irak, sebagian Asia Kecil, Persia, Afghanistan, Pakistan, Purkmenia, Uzbek dan Kirgis di Asia Tengah.
d.      Khilafah Bani Abbas
Kekuasaan dinasti Bani Abbas, atau Khilafah Abbasiyah, sebagaimana disebutkan u melanjutkan kekuasaan dinasti Bani Umayyah. Dinamakan khilafah Abbasiyah karena para pendiri dan penguasa diansti ini adalah keturunan al-Abbas paman Nabi Muhammad Saw. Dinasti Abbasiyah didirikan oleh Abdullah al-Shaffah ibn Muhammad ibn Ali ibn Abdullah ibn al-Abbas. Kekuasaannya berlangsung dalam rentang waktu yang panjang dari tahun 132 H (750 M) s.d. 656 H (1258 M). Selama dinasti ini berkuasa, pola pemerintahan yang diterapkan berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik, sosial dan budaya.
Pada periode pertama pemerintahan Bani Abbas mencapai masa keemasannya. Secara politis, para khalifah betul-betul tokoh yang kuat dan merupakan pusat kekuasaan politik dan agama sekaligus. Pada mulanya ibukota negara adalah al-Hasyimiyah, dekat Kufah. Namun, untuk lebih memantapkan dan menjaga stabilitas negara yang baru berdiri itu, al-Mansyur memindahkan ibukota negara ke kota yang baru dibangunnya, Baghdad, dekat bekas ibukota Persia, Ctesiphon, tahun 762 M.

Masa ini juga ditandai dengan perkembangan ilmu pengetahuan (di bidang agama maupun non agama) dan kebudayaan. Dalam bidang hokum dikenal para imam mazhab seperti Malik, Abu Hanifah, Syafi’I dan Ibn Hanbal. Di bidang teologi dikenal tokoh-tokoh, seperti Abu Hasan al-Asy’ari, al-Maturidi, Wasil Ibn Atha’ al-Mu’tazili, Abu al-Huzail, al-Nazzam dan al-Juba’i. dibidang ketasawufan dikenal Dzunnun al-Misri, Abu Yazid al-Bustami, al-Hallaj dan lainnya lagi. Sementar dalam bidang filsafat dan Ilmu Pengetahuan, kita mengenal al-Kindi, al-Farabi, Ibn Sina, Ibn Maskawih, Ibn al-Haytsam, Ibn Hayyan, al-Khawarizmi, al-Mas’udi dan al-Razi.
Demikianlah kemajuan politik dan kebudayaan yang pernah dicapai oleh pemerintahan Islam pada masa klasik, kemajuannya yang tidak ada tandingannya di kala itu. Pada masa ini, kemajuan politik berjalan seiring dengan kemajuan peradaban dan kebudayaan, sehingga Islam mencapai masa keemasan. Kejayaan dan kegemilangan. Masa keemasan ini mencapai puncaknya terutama pada masa kekuasaan Bani Abbas periode pertama, Namun sayang, setelah periode ini berakhir, Islam mengalami masa kemunduran.
e.       Masa Disintegrasi
Masa disintegrasi (1000-1250 M) dalam bidang politik sebenarnya telah mulai terjadi pada akhir zaman bani umayyah, tetapi memuncak di zaman Bani Abbasiyah. Wilayah kekuasaan Bani Umayyah, dari awal berdirinya sampai masa keruntuhannya, sejajar dengan batas-batas wilayah kekuasaan Islam. Hal ini tidak seluruhnya benar untuk diterapkan pada pemerintahan Bani Abbas. Kekuasaan dinasti ini tidak pernah diakui di Spanyol dan seluruh Afrika Utara, kecuali Mesir yang bersifat sebentar-sebentar dan kebanyakan bersifat nominal, secara riil, daerah-daerah itu berada di bawah kekuasaan gubernur-gubernur propinsi bersangkutan. Hubungannya dengan khalifah ditandai dengan pembayaran upeti. Akibat kebijakan yang lebih menekankan pembinaan peradaban dan kebudayaan Islam dari persoalan politik itu, propinsi-propinsi tertentu di pinggiran mulai lepas dari genggaman penguasa Bani Abbas. 

Pada masa pemerintahan Bani Abbas, tidak ada usaha untuk merebut jabatan khilafah dari tangan Bani Abbas. Yang ada hanyalah usaha merebut kekuasaannya  dengan membiarkan jabatan khalifah tetap dipegang Bani Abbas,. Hal ini terjadi karena khalifah sudah dianggap sebagai jabatan keagamaan yang sakral dan tidak bisa diganggu gugat lagi. Sedangkan kekuasaan dapat didirikan di pusat maupun di daerah yang jauh dari pusat pemerintahan dalam bentuk dinasti-dinasti kecil yang merdeka. Khalifah-khalifah Bani Abbasiyah tetap diakui, tetapi kekuasaan dipegang oleh sultan-sultan Buwaihi. Kekuasaan dinasti Buwaihi atas Baghdad kemudian dirampas oleh Dinasti Seljuk. Seljuk adalah seorang pemuka suku bangsa Turki yang berasal dari Turkestan. Saljuk dapat memperluas daerah kekuasaan mereka sampai ke daerah yang dikuasai dinasti Buwaihi. Dan semenjak itu sampai sekarang Asia kecil menjadi daerah Islam.
 Dengan jatuhnya asia kecil ke tangan Dinasti Seljuk, jalan naik haji ke Palestina bagi umat Kristen di Eropa menjadi terhalang. Untuk membuka jalan itu kembali Paus Urban II berseru kepada umat Kristen di Eropa di tahun 1095 M supaya mengadakan perang suci terhadap Islam. Perang salib pertama terjadi antara tahun 1096 M dan 1099 M, perang salib kedua antara tahun 1147 M dan 1149 M yang diikuti lagi oleh beberapa perang salib lainnya, tetapi tidak berhasil merebut palestina dari kekuasaan Islam.
Di abad duapuluh inilah baru palestina jatuh ke tangan Inggris sesudah kalahnya Turki dalam perang dunia pertama. Perpecahan di kalangan umat Islam menjadi besar. Ekspansi Islam di zaman ini meluas ke daerah yang di kuasai Byzantium di barat, ke daerah pedalaman di timur dan Afrika melalui gurun Sahara di selatan. Dinasti seljukah meluaskan daerah Islam sampai ke Asia kecil dan dari sana kemudian diperluas lagi oleh dinasti Usmani ke Eropa timur. Di India Ekspansi Islam diteruskan oleh Dinasti Gaznawi.

1.      Perkembangan Islam Periode Pertengahan
Periode kedua, atau periode pertengahan dimulai dari jatuhnya Bani Abbas hingga datangnya pengaruh modernisasi di Eropa ke dalam dunia Islam. Berawal dari jatuhnya Baghdad pada tahun 1258 M ke tangan bangsa Mongol yang mengakhiri khilafah Abbasiyah disana, dan  juga merupakan awal dari masa kemunduran politik dan keradaban Islam  Periode ini ditandai dengan masa-masa berlangsung kemunduran pertama peradaban Islam yang sering disebut dengan masa stagnan, yakni sejak jatuhnya Bani Abbas di Baghdad (1258) hingga lahir tiga kerajaan besar: Safawi di Persia, Mughal di India, dan Usmani di Turki disekitar 1500-an,. Berikutnya, sejak tahun 1500 M hingga tahun 1700 M. ketiga kerajaan ini berhasil mempelopori kemajuan kedua peradaban Islam. Namun di tahun 1700-1800 M kemunduran kedua dating lagi dimana budaya modern Eropa mulai merasuki dunia Islam dan lahir kekuatan-kekuatan kolonial, sedangkan kondisi Islam sendiri mengalami kemunduran.
Periode pertengahan (1250-1800 M) dapat dibaca juga dalam dua fase penting: (1) Fase kemunduran (1250-1500 M) yang penuh diwarnai perselisihan yang terus meningkat dengan sentimen mazhabiyah (antara Sunni dan Syi’ah), maupun sentimen etnis (antara Arab dan Persia). Pada masa inilah dunia Islam terbelah yang diperparah oleh meluasnya pandangan bahwa pintu ijtihad telah tertutup, sementara perhatian terhadap dunia ilmu pengetahuan melemah, kekuatan Kristen (dimana Perang Salib telah dimaklumatkan oleh Paus urbanus II sejak dalam konsili Clermont tahun 1095 M) justru kian menekan dunia Islam; Fase tiga kerajaan besar (1500-1800 M). yang dimaksud disini adalah kerajaan Usmani (Ottoman Empire) di Turki, kerajaan Safawi di Persia dan kerajaan Mughal di India.
Keturunan Jengis Khan datang membawa penghancuran ke dunia Islam. Jengis Khan berasal dari Mongolia. Setelah menduduki Peking di tahun 1212 M, ia mengalihkan serangan-serangannya ke arah barat. Satu demi satu kerajaan-kerajaan Islam di barat jatuh ke tangannya di tahun 1219-1220 M. Dari sini ia meneruskan serangan-serangannya ke Eropa dan ke Rusia. Pada permulaan tahun 1258 M, ia sampai ke tepi kota Baghdad. Pemerintah untuk menyerah ditolak oleh khalifah Al-Musta’sim dan kota bagdad di kepung. Pada tahun 1258 benteng Bagdad ditembus dan dihancurkan Hulagu. Hulagu bukanlah beragama Islam dan anaknya Abaga (1265-1281 M) masuk kristen. Ghasan Mahmud (1295-1304 M) juga masuk islam dan demikian juga Uljaytun Khuda Banda (1305-1316 M). Uljaytun pada mulanya beragama kristen adalah Raja Mongol besar yang terakhir.
Pasukan Mongol pada tahun (1260-1277 M) melakukan penghancuran di Mesir, tetapi sebaliknya pasukan Mongol dihancurkan oleh Mesir. Pada tahun 1250 M kekuasaan Mesir dikuasai kaum Mamluk.
Timur Lenk, seorang yang berasal dari keturunan Jengis Khan dapat menguasai Samarkand di tahun 1369 M. Kedatangannya ke daerah-daerah di antara Delhi dan laut Marmara membawa penghancuran. Masjid-masjid dan madrasah-madrasah dihancurkan.
Di India juga persaingan dan peperangan untuk merebut kekuasaan selalu terjadi sehingga India senantiasa menghadapi perubahan penguasa. Kekuasaan dinasti Gaznawi dipatahkan oleh pengikut Ghaur Khan, yang juga berasal dari salah satu suku bangsa Turki. Mereka masuk ke India di tahun 1175 M , dan bertahan samapai tahun 1206 M.
Di Spanyol timbul peperangan antara dinasti-dinasti Islam yang ada di sana dengan raja-raja Kristen. Di dalam peperangan itu raja-raja Kristen dapat memakai politik Adu-Domba antara dinasti-dinasti Islam. Raja-raja Kristen mengadakan persatuan sehingga satu demi satu dinasti Islam dapat dikalahkan. Di tahun 1609 M boleh dikatakan tidak ada lagi orang Islam di Spanyol. Di zaman inilah penghacuran khilafah secara formal. Islam tidak lagi mempunyai khalifah, yang diakui oleh semua umat sebagai lambang persatuan dan ini berlaku sampai kerajaan Usmani mengangkat khalifah yang baru di Istanbul di abad keenam belas.
Periode Usmani (1299-1422) dimulai dari awal berdirinya perluasan pertama sampai kehancuran sementara oleh serangan Timur Lenk. Pada masa Usman dilakukan ekspansi Islam dengan merebut wilayah dikuasai Byzantium. Orkhan menggantikan Usman, juga dapat menundukkan wilayah Turkeman, Nicaea, Nicomedia, dan dapat mengontrol wilayah antara teluk Edremit meluaskan wilayah Eropa. Bayazid, putra Murad, menggantikannya. Bayazid menaklukan wilayah yang belum ditundukkan sultan-sultan sebelumnya. Di masanya terjadi peperangan besar antara pasukan Usmani melawan tentara sekutu Eropa yang dimenangkan oleh pasukan Usmani. Pasukan Bayazid juga harus menghadapi pasukan Mongol dibawah komando Timur Lenk. Karena jumlah pasukannya tidak seimbang, ia pun dikalahkan dan ditawan oleh Timur Lenk dan wafat di tahun 1402.
Di Turki ada tiga kerajaan yaitu, Sultan Muhammad Al-Fatih (1451-1481 M) dari kerajaan Usmani mengalahkan kerajaan Byzantium dengan menduduki Istanbul di tahun 1453 M. Ekspansi ke arah barat dengan demikian berjalan lebih lancar. Pengganti sultan Muhammad al-Fatih adalah sultan Salim (1512-1520 M) sultan Salim memilki kemampuan memerintah dan memimpin peperangan.
Pada masa pemerintahannya wilayah Usmani bertambah luas menembus Afrika Utara, Syiria, dan Mesir. Kemajuan-kemajuan lain dibuat oleh Sultan Sulaiman Al- Qanuni (1512-1566 M). Sultan Sulaiman adalah sultan Usmani yang terbesar. Wilayah kekuasaannya mencakup tiga benua yaitu Asia, Afrika dan Eropa. Pada di tahun (1556-1699 M) ditandai dengan kemampuan Usmani mempertahankan wilayahnya sampai lepasnya Hungaria. Pada periode ini mulai bermunculan pemberontakan dan usaha-usaha memisahkan diri dari pemerintahan Usmani. Di tahun (1699-1839 M) ditandai dengan surutnya kekuatan kerajaan dan pecahnya wilayah di tangan penguasa wilayah. Tanda-tanda ini semakin tampak, kekuatan asing seperti Rusia dan Australia mulai memainkan perannya dalam memanfaatkan kelemahan militer Usmani. Perang berakhir pada tahun 1774, dimana Turki kehilangan Crimea. Jelasnya di abad 18, Turki Usmani mengalami penurunan kekuasaan. Wilayah-wilayah kekuasaannya di berbagai benua satu persatu mulai menunjukkan ketidakloyalannya.
Pada di tahun (1839-1922) ditandai dengan kebangkitan kultural dan administratif dari negara di bawah pengaruh ide-ide barat. Pada periode ini dilakukan pembaharuan politik, administratif dan kebudayaan hingga kejatuhannya di tahun 1924 dan berganti menjadi Republik. Khilafah Turki Usmani dihapuskan oleh Kemal Attaturk, dan turki dirombak menjadi negara Nasional Republik Turki.
 Pada masa kejayaannya, masing-masing kerajaan ini memiliki keunggulan khas di bidang literatur dan arsitektur sebagaimana terlihat melalui keindahan masjid-masjid dan bangunan lainnya yang lahir ketika itu, sedangkan perhatian pada riset ilmu pengetahuan masih terbilang sangat kurang sehingga turut memberi kontribusi pada menurunnya kekuatan militer sekaligus politik umat Islam. Sisi lain, dunia Kristen dengan kekayaan yang terus berlimpah yang diangkut dari Amerika dan Timur Jauh semakin maju, baik dalam bidang ilmu pengetahuan dan kekuatan militernya. Maka sejarah akhirnya mencatat, kerajaan Usmani terpukul kalah di wilayah Eropa, kerajaan Safawi terdesak oleh suku-suku Afghan, dan kerajaan Mughal kian mengkerut ditekan raja-raja India, Puncaknya Mesir sebagai salah satu symbol dan pusat peradaban Islam ketika itu runtuh di bawah penaklukan  Napoleon di tahun 1798 M.

Bila kita gambarkan secara sederhana dan umum, maka pada Periode Klasik, peradaban Islam mengalami kemajuan pesat, sementara pada Periode Pertengahan peradaban Islam mengalami kemunduran, sedangkan pada periode modern, peradaban Islam mengalami kebangkitan kembali dan pembaharuan.




[1] Harun Nasution, Islam ditinjau dari berbagai aspeknya, jilid 1, (Jakarta: UI Press, 1985, cetakan kelima), 58.
[2] Moh Nurhakim, Sejarah dan Peradaban Islam, (Malang: UMM Press, 2003, cetakan pertama), 5

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar