Bab I Membiasakan Berpikir
Kritis[1]
- Q.S. Ali ‘Imrān/3: 190-191
Mari membaca
dengan fasih dan benar Q.S. Ali ‘Imrān/3: 190-191 berikut ini. Sesuaikan bacannya dengan
menggunakan Ilmu Tajwid dan Makharijul
huruf!
إِنَّ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ
وَٱلْأَرْضِ وَٱخْتِلَٰفِ ٱلَّيْلِ وَٱلنَّهَارِ لَءَايَٰتٍ لِّأُو۟لِى
ٱلْأَلْبَٰبِ ٱلَّذِينَ يَذْكُرُونَ ٱللَّهَ قِيَٰمًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ
وَيَتَفَكَّرُونَ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ
وَٱلْأَرْضِ رَبَّنَا
مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَٰطِلًا سُبْحَٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ
- Analisis Hukum Tajwid
Mari
perhatikan dengan cermat teks Q.S. Ali ‘Imrān/3: 190-191. Buatlah kajian dari aspek ilmu tajwidnya. Berikut ini ada
beberapa contoh, selanjutnya kembangkan
untuk kalimat atau lafal yang lain dari ayat tersebut!
|
No |
Kalimat |
Hukum Bacaan |
Sebab |
|
1 |
إِنَّ |
Ghunnah |
Nun Bertasydid |
|
2 |
ٱلسَّمَٰوَٰتِ |
|
|
|
3 |
ٱلْأَرْضِ |
|
|
|
4 |
ٱلنَّهَارِ |
|
|
|
5 |
قِيَٰمًا وَقُعُودًا |
|
|
|
6 |
رَبَّنَا |
|
|
|
7 |
خَلَقْتَ |
|
|
- Mengartikan Perkata
Coba cermati teks Q.S. Ali ‘Imrān/3: 190-191. kata per kata.
Maknai dari kata atau lafal dari ayat
tersebut yang belum ada artinya!
- Menerjemahkan Ayat
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan
pergantian malam dan siang terdapat
tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal (Q.S. Ali ‘Imrān/3: 190).
(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka. (Q.S. Ali ‘Imrān/3: 191)
- Isi dan Kandungan Ayat
Memahami ayat Al-Qur’an, tidak cukup hanya berdasar terjemah
saja, tetapi harus berlandaskan kepada
buku tafsir yang mu’tabar (otoritatif). Berikut ini, kandungan isi Q.S. Ali
Imrān/3: 190-191:
1.
Begitu banyak tanda-tanda kebesaran Allah Swt.
yang dibentangkan di langit dan bumi,
termasuk pada diri manusia, semua itu harus dijadikan sebagai sarana berpikir bagi umat manusia, khususnya orang
beriman, agar dapat mengambil manfaat,
faedah, dan hikmah dari keberadaan alam
semesta.
2.
Penciptaan alam semesta, meliputi silih
bergantinya siang dan malam, pusaran
angin, keteraturan lintasan benda-benda langit, dan bumi dengan segala isinya, semua itu jangan hanya
dijadikan sebagai peristiwa biasa, tanpa
hikmah dan tujuan, tetapi harus dipikirkan, diteliti, dan dieksplorasi, sehingga keberadannya semakin
terbuka dan dapat diambil sisi positif dan negatifnya melalui akal pikiran
serta akal budi yang dimiliki oleh setiap orang;
3.
Semua manfaat, faedah, dan hikmah dari beragam
peristiwa yang tersebar di alam semesta tersebut, hanya dapat dipahami oleh
orang-orang yang memiliki akal pikiran yang sehat serta akal budi yang dikenal
dengan istilah ulil albab atau ulul albab;
4.
Ulil Albab adalah orang yang memiliki akal
pikiran yang lurus, nurani yang bersih, serta menjadi hamba Allah Swt. yang
mengisi setiap waktunya untuk memikirkan
segala penciptaan dan peristiwa di alam raya ini, sehingga menghasilkan
kesimpulan bahwa semua ini membawa manfaat, tidak ada yang sia-sia, akhirnya
hidupnya semakin dekat (taqarrub) kepada Allah
5.
Tanda lain Ulil Albab adalah mereka yang dalam
kondisi apapun (duduk, berdiri, dan berbaring) yang artinya juga saat mampu,
kaya, atau terpuruk, kondisi riang gembira, atau sedih, semua itu tidak
menghalangi untuk mengambil maslahat
dari segala ciptaan Allah Swt. baik untuk diri sendiri, lingkungan yang mengitarinya, maupun
masyarakat secara luas.
6.
Ulil Albab juga melakukan pemikiran kritis,
utuh, obyektif, dan seimbang terhadap segala problem yang muncul, sehingga buah
pemikirannya memberi banyak manfaat, jauh dari kebencian dan sengketa, apalagi kerancuan dan kebimbangan, akhirnya
memunculkan kedamaian, kesejukan, serta solusi terbaik bagi semuanya.
7.
Setiap orang beriman sangat dituntut, agar
penggunaan akal pikiran dan akal budinya, menghasilkan kesadaran diri bahwa
semua penciptaan itu bersumber dari Allah. Selanjutnya, mengajak diri dan orang
lain, agar semakin dekat (taqarrub) kepada Allah Swt. Melalui pendekatan tersebut,
keselamatan dan kesuksesan dunia akhirat dapat diraih, akhirnya terhindar dari
kesengsaraan, kegagalan dan kehinaan.
8.
Seperti peran dari ulil albab, Ayat ini mengajak
juga agar di setiap komunitas dan masyarakat, bahkan dalam lingkup yang lebih
luas, ada kelompok orang yang berperan sebagai pemikir dan penengah dari problema
yang muncul, sehingga terhindar dari hoax, berita bohong, dan informasi yang
tidak benar.

0 comments:
Posting Komentar