Jumat, 24 Juli 2026

Posted by Rumah Ratu On Jumat, Juli 24, 2026

 

Bab I Membiasakan Berpikir Kritis[1]



  • Q.S. Ali ‘Imrān/3: 190-191 

Mari membaca dengan fasih dan benar Q.S. Ali ‘Imrān/3: 190-191  berikut ini. Sesuaikan bacannya dengan menggunakan Ilmu Tajwid dan  Makharijul huruf!

إِنَّ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَٱخْتِلَٰفِ ٱلَّيْلِ وَٱلنَّهَارِ لَءَايَٰتٍ لِّأُو۟لِى

 ٱلْأَلْبَٰبِ ٱلَّذِينَ يَذْكُرُونَ ٱللَّهَ قِيَٰمًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَٰطِلًا سُبْحَٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ

 

  • Analisis Hukum Tajwid

Mari perhatikan dengan cermat teks Q.S. Ali ‘Imrān/3: 190-191. Buatlah kajian  dari aspek ilmu tajwidnya. Berikut ini ada beberapa contoh, selanjutnya  kembangkan untuk kalimat atau lafal yang lain dari ayat tersebut!

 

No

Kalimat

Hukum Bacaan

Sebab

1

إِنَّ

Ghunnah

Nun Bertasydid

2

ٱلسَّمَٰوَٰتِ

 

 

3

ٱلْأَرْضِ

 

 

4

ٱلنَّهَارِ

 

 

5

قِيَٰمًا وَقُعُودًا

 

 

6

رَبَّنَا

 

 

7

خَلَقْتَ

 

 

 

  •        Mengartikan Perkata

Coba cermati teks Q.S. Ali ‘Imrān/3: 190-191. kata per kata. Maknai dari  kata atau lafal dari ayat tersebut yang belum ada artinya!

  •  Menerjemahkan Ayat

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan  siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal (Q.S. Ali ‘Imrān/3: 190).

(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam  keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit  dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan  semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.  (Q.S. Ali ‘Imrān/3: 191)

  • Isi dan Kandungan Ayat

Memahami ayat Al-Qur’an, tidak cukup hanya berdasar terjemah saja, tetapi  harus berlandaskan kepada buku tafsir yang mu’tabar (otoritatif). Berikut ini, kandungan isi Q.S. Ali Imrān/3: 190-191:

1.      Begitu banyak tanda-tanda kebesaran Allah Swt. yang dibentangkan di  langit dan bumi, termasuk pada diri manusia, semua itu harus dijadikan sebagai sarana  berpikir bagi umat manusia, khususnya orang beriman,  agar dapat mengambil manfaat, faedah, dan hikmah dari keberadaan  alam semesta.

2.      Penciptaan alam semesta, meliputi silih bergantinya siang dan malam,  pusaran angin, keteraturan lintasan benda-benda langit, dan bumi  dengan segala isinya, semua itu jangan hanya dijadikan sebagai peristiwa  biasa, tanpa hikmah dan tujuan, tetapi harus dipikirkan, diteliti, dan  dieksplorasi, sehingga keberadannya semakin terbuka dan dapat diambil sisi positif dan negatifnya melalui akal pikiran serta akal budi yang dimiliki oleh setiap orang;

3.      Semua manfaat, faedah, dan hikmah dari beragam peristiwa yang tersebar di alam semesta tersebut, hanya dapat dipahami oleh orang-orang yang memiliki akal pikiran yang sehat serta akal budi yang dikenal dengan istilah ulil albab atau ulul albab;

4.      Ulil Albab adalah orang yang memiliki akal pikiran yang lurus, nurani yang bersih, serta menjadi hamba Allah Swt. yang mengisi setiap  waktunya untuk memikirkan segala penciptaan dan peristiwa di alam raya ini, sehingga menghasilkan kesimpulan bahwa semua ini membawa manfaat, tidak ada yang sia-sia, akhirnya hidupnya semakin dekat (taqarrub) kepada Allah

5.      Tanda lain Ulil Albab adalah mereka yang dalam kondisi apapun (duduk, berdiri, dan berbaring) yang artinya juga saat mampu, kaya, atau terpuruk, kondisi riang gembira, atau sedih, semua itu tidak menghalangi untuk  mengambil maslahat dari segala ciptaan Allah Swt. baik untuk diri sendiri,  lingkungan yang mengitarinya, maupun masyarakat secara luas.

6.      Ulil Albab juga melakukan pemikiran kritis, utuh, obyektif, dan seimbang terhadap segala problem yang muncul, sehingga buah pemikirannya memberi banyak manfaat, jauh dari kebencian dan sengketa, apalagi  kerancuan dan kebimbangan, akhirnya memunculkan kedamaian, kesejukan, serta solusi terbaik bagi semuanya.

7.      Setiap orang beriman sangat dituntut, agar penggunaan akal pikiran dan akal budinya, menghasilkan kesadaran diri bahwa semua penciptaan itu bersumber dari Allah. Selanjutnya, mengajak diri dan orang lain, agar semakin dekat (taqarrub) kepada Allah Swt. Melalui pendekatan tersebut, keselamatan dan kesuksesan dunia akhirat dapat diraih, akhirnya terhindar dari kesengsaraan, kegagalan dan kehinaan.

8.      Seperti peran dari ulil albab, Ayat ini mengajak juga agar di setiap komunitas dan masyarakat, bahkan dalam lingkup yang lebih luas, ada kelompok orang yang berperan sebagai pemikir dan penengah dari problema yang muncul, sehingga terhindar dari hoax, berita bohong, dan informasi yang tidak benar.



[1] Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas XI

0 comments:

Posting Komentar